Dari Jendela Kamarku

Terbit bulan Mei 2014 di Majalah Good Housekeeping

           OLYMPUS DIGITAL CAMERA Dari jendela kamarku, aku hampir bisa melihat apa pun… Aku bisa melihat langit yang memayungi Kolosseum. Aku bisa melihat burung-burung jalak yang bermanuver setiap senja di atas kota Roma. Aku bisa melihat patung kuda hitam di atas gedung Altare della Patria, tempat para pahlawan Italia dimakamkan. Aku bisa melihat taman luas terbentang di biara kami. Aku bisa melihat orang-orang yang keluar masuk ke dalam biara kami, petugas pengangkut sampah, suster-suster tua yang bertugas memasak di biara kami, para bruder yang bekerja di kebun, ya hampir semuanya yang lalu-lalang di jalan utama biara kami. Dan, tentu saja, dari jendela kamarku ini aku bisa melihatmu…

Aku tinggal di bawah kamarmu. Setahun yang lalu, tepat tanggal 8 Februari 2010, aku masih ingat persis tanggalnya. Aku duduk di tepi jendela, di depan meja belajarku, ketika aku menoleh ke luar jendela, kudapati Frater Juang sedang berjalan dengan seorang perempuan bergaun merah. Ya, perempuan itu kamu. Dia membantumu mendorong salah satu kopermu menyusuri jalan berkerikil di biara kami. Dari wajahmu, dari gaunmu, dan dari caramu bercakap-cakap dengan Juang, aku langsung tahu kau pasti orang Indonesia. Juang bukan berasal dari kongregasiku, jadi dia tidak tinggal di biara ini. Aku mengenalnya di KBRI sejak aku sampai di kota ini.

Sambil duduk dan melihat kalian berdua berjalan, aku tahu kemana Juang akan mengantarmu. Di gedung paling atas biara kami ada sebuah asrama khusus untuk mahasiswa-mahasiswa sepertimu. Bukan mahasiswa-mahasiswa calon imam, atau calon suster. Mereka mahasiswa-mahasiswa awam di universitas-universitas Kepausan di Roma dari berbagai negara.

            Walaupun sangat menginginkan, dari tepi jendela tempat aku duduk aku tak bisa memanggil Juang. Biara tempat kami tinggal juga adalah biara tempat retret para rohaniwan maupun orang-orang awam Katholik. Jadi, tidak boleh membuat keributan sedikit pun. Akhirnya, yang kulakukan adalah meneleponnya dan bergegas ke pintu masuk asramamu, sebuah pintu di sayap lain biara kami, yang memisahkan tempat tinggal antara para biarawan dengan para penghuni asramamu.

          Aku tidak menyangka kauakhirnya mendapatkan sebuah kamar tepat di atas kamarku. Lantai empat. Jendela kita berada dalam satu yang baris sama. Jadi, kaujelas-jelas lebih beruntung. Dari jendela kamarmu, kaubisa melihat semuanya dengan lebih jelas. Batu-batu Kolosseum, reruntuhan Circus Maximus, atap Altare della Patria, bahkan juga kubah Basilika Santo Petrus dari kejauhan. Semua itu adalah keajaiban-keajaiban yang akhirnya dapat kita bagi bersama-sama setiap kali bertemu. Pelangi pada musim gugur, kembang api pada perayaan para santo tertentu, dan burung-burung yang terbang membentuk hati di atas langit.

Akan tetapi, sesungguhnya, keajaiban yang terbaik, keajaiban yang terindah bagiku dari tepi jendela kamaarku adalah setiap menemukanmu berjalan menyusuri jalan berbatu kerikil entah saat pergi atau pulang, sendirian atau bersama-sama dengan temanmu. Meskipun kadang-kadang aku beruntung bisa berangkat atau pulang bersama-sama dari kampus kita di Gregoriana, tetapi melihatmu dari jendela kamarku adalah sesuatu yang berbeda… Lebih istimewa dari apapun. Kalau kautak tergesa-gesa berangkat ke kampus, kau pasti akan menoleh, menengok ke arah jendelaku, tersenyum seraya melambaikan tanganmu.

Ciao, Wil!” katamu, meski tak terdengar olehku. Senyummu adalah musim semi yang memekarkan bunga-bunga di tamanku. Senyummu adalah musim gugur yang merontokkan daun-daun di kebunku. Senyummu adalah akhir musim dingin yang melelehkan salju di padang rumputku. Senyummu adalah awal musim panas yang menghangatkan tanah di pekaranganku.

Siapa yang menyangka hidupmu tidak seindah senyumanmu? Tetapi katamu padaku, “Tersenyumlah, Wil. Mengapa setiap kali difoto kautak mau tersenyum?”

Musim gugur pertama kita di bawah langit Roma yang kelabu, aku ingat kita pernah duduk di sebuah bangku di taman biara, tepat di atas Bukit Claudius. Kita berdua duduk di bawah pohon-pohon yang telah meranggas, ditemani patung Bunda Maria di sampingmu, sambil memandangi separuh ibukota Romawi purba. Tiba-tiba kauberseru riang, “Lihat ini, Wil! Daun-daun ini cantik sekali!” Kau menunjuk ke tiga helai daun berwarna kuning yang hampir jatuh melayang dari dahannya yang sudah kering.

Aku tersenyum lebar sambil menatap kedua bola matanya. “Aku tak percaya. Apakah kaubenar-benar tidak bahagia, Mbak?”

            Dia membalas tatapanku sambil tersenyum. “Iya, Will, iya…Aku bahagia! Aku bahagia, bahagia berada di sini.”

            Aku ingat hari itu adalah kali pertama aku melihat airmatamu mengalir, menggenangi pipimu yang bersih, sehingga rasa-rasanya aku ingin sekali mengusapnya. Sebungkus rokokku habis hanya untuk mendengar semua cerita pilumu. Udara musim gugur waktu itu terlalu sejuk. Jika aku mau, bisa saja aku memelukmu dan membiarkanmu menumpahkan airmatamu di dadaku.

            “Tetapi,” kataku sambil mencoba bersikap bijak, “Aku percaya kaukuat. Mungkin sekarang kaubelum bisa menerimanya kembali. Mungkin saat ini kaubelum bisa melupakan apa yang telah ia lakukan. Kau sudah memaafkannya, dan dia juga sudah berubah. Bukankah itu adalah langkah awal yang baik?”

            Kausendiri, walau tampak enggan, tetap mengangguk dan tersenyum menatapku, “Iya, iya. Apa yang dipersatukan oleh Tuhan, tak boleh dipisahkan oleh manusia, kan?”

            Senyumanmu waktu itu. Tatapanmu saat itu. Siapapun yang pernah melihatmu tersenyum, siapapun yang pernah mendapatkan tatapan penuh kasihmu seperti itu, tak pernah akan percaya semua cerita yang kudengar hari itu.

           A-bunda maria Masa-masa saat bertemu denganmu pertama kali adalah masa-masa terberat dalam hidupku. Aku telah memutuskan untuk keluar dari biara, tetapi aku ingin menyelesaikan seluruh studiku terlebih dahulu. Kemudian, kautiba-tiba muncul. Melihatmu dari tepi jendela kamarku, selalu membuatku bersemangat. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menemukan kembali nyala api dalam hidupku sehingga aku kembali bergelora. Aku belajar dengan tekun, aku mengerjakan tugas-tugasku di biara dengan riang, dan tak lagi bimbang dengan keputusan yang telah kutetapkan sendiri.

Sejak pertama kali melihatmu dengan gaun merah itu, sejak kau menyebut namamu di depan Frater Juang, aku memang sudah langsung mengagumimu. Kau mempunyai sesuatu… entah apa itu, bagaimana dapat kulukiskan? Bukan karena kaucantik, sebab kau memang cantik. Tetapi, satu-satunya penjelasan rasionalku adalah kau dan aku selalu dapat berbagi keajaiban-keajaiban yang sama. Selera musik, film, senirupa, santo favorit, tempat misa favorit, buku-buku bahkan juga tempat plesiran favorit di sudut-sudut kota Roma ini.

            “Will, kamu tahu nggak, nggak jauh dari Piazza Navona, sedikit tersembunyi, ada sebuah kafe tempat kita bisa duduk berjam-jam tak seperti di kafe-kafe lain. Duduk atau berdiri harganya sama,” katanya sewaktu kami berjalan pulang dari kampus.

            “Iya, aku tahu tempat itu, Mbak. Kamu mau ke sana besok siang? Aku bebas besok.”

            Matanya berbinar-binar waktu mendengar pertanyaanku. “Iya, tentu aku mau.”

            Mbak Hannah, begitu aku memanggilmu. Dan, kausuka sekali kupanggil begitu. Aku lebih muda empat tahun, katamu aku lebih pantas menjadi adikmu. Kuceritakan panjang lebar, sebelum masuk seminari, pacar pertamaku juga lebih tua lima tahun. Kautertawa, mengerling padaku, lalu bilang, “Terus… kenapa kamu cerita begitu padaku?”

            “Aku akan keluar musim semi nanti,” kataku.

            Kau tersenyum menggodaku. “Kalau begitu…Menikahlah Will!…Aku tahu kau menyukai gadis-gadis cantik…”

            Aku tertawa geli. “Iya, iya…Mbak!”

“Tapi, kalau kausudah menikah…” Tiba-tiba kauterdiam.

            “Tapi apa, Mbak?”

            “Jangan pernah membuat istrimu menangis ya?” Lagi-lagi kaumenatapku.

            Aku mengerti, sebagaimana halnya kau, kita sama-sama tak mampu menahan arus sungai yang mengalir semakin deras di jantung hati kita. Kekagumanku padamu tumbuh dari hari ke hari menjadi taman penuh dengan bunga-bunga mawar merah merona. Sedangkan kau, kertergantunganmu padaku melekat dari hari ke hari menjadi batang pohon penuh dengan daun-daun menjalar yang teguh menempel.

Meskipun aku akan meninggalkan biara, meskipun aku tak pernah berhenti memikirkanmu, meskipun aku selau menunggumu lewat di tepi jendela kamarku, kukatakan padamu, “Terimalah Alfons kembali. Inilah kesempatan bagimu memikul salib, dan aku tahu kaubisa. Ya, kaubisa!”

            Namun, pada suatu senja, semuanya menjadi semakin muram. Beberapa bulan sesudah Alfons mengunjungimu selama seminggu, kau mengalami keguguran. Kaumarah padaku karena tak mendampingimu. Kemudian, kemarahanmu semakin tidak terkendali dari hari ke hari sejak kaukeluar dari rumahsakit. Aku tahu, selain karena tubuhmu masih sangat lemah, kau sebenarnya hanya membenciku agar kaubisa menguburkan aku dalam-dalam dari kenanganmu, melenyapkan aku dari taman bungamu.

Waktu itu rinai salju yang kupandang dari tepi jendela kamarku membuatku benar-benar tersiksa oleh rinduku padamu. Tetapi, karena kaumasih sangat marah, kautak mau bertemu denganku. Sementara itu, waktu kepulanganku semakin dekat.

Kau mengerti bahwa aku benar-benar berharap kaukembali pada Alfons, meskipun aku juga menginginkanmu. Sejak saat itu, mengetahui semuanya menjadi hancur berantakan, aku pun akhirnya terpaksa memutuskan tak akan pernah menemuimu lagi. Aku tak pernah menghubungimu lagi. Tak pernah membalas pesan-pesanmu lagi. Tak pernah pula menerima teleponmu lagi. Aku bahkan menutup jendela kamarku jika kaulewat. Lalu…ketika akhirnya aku pulang ke Indonesia, aku pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan kepadamu. Aku tak ingin membebanimu dengan perasaanku. Aku tak ingin perasaanku memberatkan perjalananmu kembali ke pangkuan Alfons.

            Dari jendela kamarku yang sekarang, aku melihat sawah yang luas terhampar, orang-orangan yang dipakaikan baju compang-camping, dan sebaris bukit hijau dari kejauhan. Aku melihat para petani yang berpeluh mencangkul dan membajak, anak-anak sekolah yang lewat di pematang, juga ibu-ibu berkerudung berangkat pulang dan pergi ke pasar atau ke mesjid. Aku tak lagi melihatmu, kecuali dalam mimpi-mimpiku. Mimpi-mimpi yang hampir selalu sama, yaitu kedua bola matamu, yang menatapku seperti menusuk jantungku dalam-dalam.

            Pagi itu, masih Subuh waktu aku terbangun, kebiasaan yang tak bisa hilang karena dulu waktu di biara aku selalu harus bangun dini hari untuk doa pagi di kapel. Aku merasa mimpiku semalam terlalu nyata. Aku merasa itu sama sekali bukan mimpi.

            Aku melihatmu di sebuah pesta. Kita berdua berdiri berhadap-hadapan dan saling menatap. Aku ingin sekali kauyang menyapa yang terlebih dahulu, seperti selalu. Namun, tidak, sama sekali tidak biasa kau sepertinya sangat enggan bicara denganku. Matamu, seperti mimpi yang sudah-sudah, menatapku tajam sekali, hanya saja kali ini dengan hujan yang sangat deras di wajahmu. Ketika aku berjalan menghampiri, kau malah berlari menghindar. Aku mengejarmu, dan kaumasuk ke dalam toilet. Aku menunggumu di muka pintu toilet, dan waktu kaukeluar wajahmu sebenarnya sudah bersih dari airmata sebelum kau menemukanku. Begitu melihatku lagi, hujan kembali deras di wajahmu.

            Sementara itu, melihatmu seperti itu aku berlari mendekapmu. Erat sekali. Aku membiarkanmu menangis dalam pelukanku, tak seperti yang sudah-sudah. Ah, entah bagaimana, aku merasa pelukanku waktu itu begitu nyata. “Sudah, Mbak, sudah,” pintaku, menenangkanmu karena isak tangismu seperti banjir yang semakin meluap.

            Namun, sungguh tak seperti biasa juga, tak ada satu pun kata yang keluar dari kalimatmu. Tak ada senyumanmu. Tak dapat melihat tatapanmu… Ketika aku terbangun, aku masih merasakan kehangatan yang kurasakan saat memelukmu dalam mimpi. Aku bahkan merasakan basah airmatamu ada pada kaos putih yang kukenakan malam itu. Kaos yang…ah waktu kubercermin, aku baru ingat bahwa kausuka sekali kalau aku memakai kaos itu…

            “William…” Pagi itu juga, aku membuka chat dari Juang dengan hati berdebar-debar. “Apa kamu sudah dengar berita tentang Mbak Hannah?”

            “Berita apa?”

            “Dia di rumah sakit. Di Jakarta. Sudah berhari-hari koma.”

            “Kenapa?” Aku mengetik pertanyaan ini dengan gemetaran.

            “Kudengar, dia dan Alfons bertengkar. Alfons memukulnya sampai dia terjatuh dan terpelanting dari tangga.”

Jawaban Juang menghancurkan bendunganku. Bukan seperti mimpi semalam, sekarang, justru hujan yang deras di wajahku.

Beberapa hari lalu, sebelum mimpi itu, aku memang menerima pesan darimu, tetapi aku tak mau membalasnya. Aku benar-benar ingin kau tak bergantung padaku lagi. Aku ingin kau kembali bersama Alfons. Sewaktu aku melihat pesan itu lagi, kulihat tanggalnya. 8 Maret 2014. Itu tanggal yang sama dengan hari ketika kau terjatuh dari tangga.

Dari jendela kamarku, sambil duduk dan menangis, sambil benakku bergulat apakah aku harus pergi menjengukmu, aku membaca kembali pesan darimu. Membacanya, aku merasa kau bicara sangat dekat di telingaku.

Will… Maafkan aku. Maafkan aku karena merindukanmu. — TAMAT

 

bangkubersalju

 Foto-foto: Roma, Italia 2011-2012

Pak Mangkok

(Belum pernah terbit) 

Empatbelas tahun yang lalu, di kampung halamanku ada seorang tukang perbaikan mangkok. Dia adalah satu-satunya tukang perbaikan mangkok yang pernah kukenal. Kudengar waktu itu dia adalah satu-satunya tukang perbaikan mangkok yang masih hidup dan bertahan melakoni pekerjaan itu di kabupaten kami. Segala macam mangkok tembikar dan hampir semua bentuk tembikar dapat diperbaikinya dalam waktu yang singkat dan selalu dengan hasil yang amat memuaskan.

Empat belas tahun yang lalu, tukang perbaikan mangkok itu sudah berumur tujuh puluh tahun. Tidak banyak yang tahu nama sebenarnya. Orang-orang biasa memanggilnya Pak Mangkok. Dia tidak pernah menikah. Karena itu, sepanjang sisa hidupnya ia hidup sebatang kara. Kudengar dari orang-orang sedesa yang pernah mengunjunginya, dia tinggal dalam sebuah pondok kecil di tepi danau yang dibangunnya sendiri. Kehidupannya di situ ibarat potret kehidupan masa lampau. Di sana tak ada penerangan dari listrik, dan dia masih menggunakan kayu bakar untuk memasak.

Empat belas tahun yang lalu, Pak Mangkok masih kuat memikul peralatan memperbaiki mangkoknya seraya mendaki dan menuruni perbukitan, menjelajahi dusun demi dusun di kabupaten kami. Dia mengenal seluruh sudut kampung dan bersahabat dengan segala macam cuaca dan segala macam medan yang terbentang di kampung kami. Pak Mangkok mempunyai ingatan yang menakjubkan tentang setiap orang yang dikenalnya. Tentang setiap peristiwa yang terjadi di desa kami. Kudengar dari orang-orang yang bekerja di kantor kabupaten, dia sudah menjalani pekerjaan tersebut sejak berumur beberapa minggu. Ibunya meninggal dunia setelah melahirkannya ke dunia, sedangkan ayahnya tidak pernah menikah lagi. Karena itu, sejak bayi ayahnya telah membawanya bepergian menawarkan jasa perbaikan mangkok. Pada umur empatbelas tahun, Pak Mangkok keluar dari sekolah, lalu menggantikan ayahnya yang meninggal dunia.

Empat belas tahun usianya, tetapi dia telah mempunyai pekerjaan penting dan dia telah mahir dengan pekerjaannya. “Perbaikan Mangkok! Perbaikan Mangkok!” teriaknya untuk pertama kali tanpa ditemani oleh ayahnya. Sejak saat itu dia menjadi Pak Mangkok.

Empat belas tahun yang lalu, aku ingat benar, ibuku pernah memecahkan mangkok pusaka keluarga besarnya ketika mereka sedang mengadakan kenduri pernikahan adik bungsunya. Karena takut mendapat tulah, ibuku segera mencari Pak Mangkok ke rumahnya, tak sabar menunggunya lewat di depan rumah kami. Tanpa berpikir panjang lagi, ibuku menyanggupi biaya perbaikan mangkok tersebut, meskipun membeli mangkok baru jauh lebih murah beberapa kali lipat daripada memperbaikinya. Kudengar dari tetangga-tetangga yang suka bergunjing, Pak Mangkok sengaja menaikkan harga untuk membayar hutang salah seorang keponakannya di kota yang gemar berjudi. Walaupun mendengar desas desus itu, ibuku tidak peduli. Ibuku justru merasa amat berhutang budi kepada Pak Mangkok. “Entah apa yang akan terjadi kalau Pak Mangkok tidak ada,” bisiknya padaku.

Empat belas tahun yang lalu, aku sering diam-diam mengamati dengan seksama cara bekerja Pak Mangkok yang begitu teliti dan hati-hati. Umurku baru sepuluh tahun, tetapi aku sadar, aku amat terpesona pada kecekatan dan keahlian Pak Mangkok yang di mataku tiada bandingannya. Kadang-kadang sepulang sekolah, aku sengaja mencarinya, kemudian aku mempelajari caranya memperbaiki mangkok secara sembunyi-sembunyi. Kadang-kadang aku beruntung mendapatinya sedang memperbaiki mangkok salah seorang tetangga dan segera saja aku merekam cara bekerjanya dalam kepalaku. Kudengar dari mulutnya sendiri, memperbaiki mangkok pada zaman ini tentu saja adalah pekerjaan yang aneh. Seseorang di ujung dunia telah menemukan plastik untuk menjadi bahan baku segala macam perabot rumah tangga. Pabrik-pabrik plastik telah berdiri di kota. Mangkok-mangkok plastik dijual murah di kampung kami. Harganya lebih murah daripada segenggam beras. Tetapi, aneh juga masih banyak orang yang membutuhkan Pak Mangkok di kampung kami.

Empat belas tahun kemudian, setelah beberapa tahun kutinggalkan kampung halamanku, kudapati Pak Mangkok masih hidup dan tinggal dalam pondoknya di pinggir danau.  Namun, dia telah berhenti dari pekerjaannya yang sangat menarik bagiku itu. Orang-orang kampung sudah tidak lagi membutuhkannya. Sehari-hari mereka lebih suka memakai mangkok dari bahan dasar plastik yang tidak mudah pecah, murah harganya dan ringan dibawa. Mereka hanya menggunakan mangkok tembikar pada saat pesta. Kudengar dari teman-teman sebayaku yang masih betah tinggal di kampung, sudah empat belas bulan Pak Mangkok benar-benar pensiun dan dia tidak pernah mengeluhkan perubahan ini. Namun, sejak saat itu, dia lebih suka menyendiri dalam pondoknya.

Empat belas tahun sudah aku menganggap keahlian Pak Mangkok merupakan keterampilan yang sangat mengagumkan. Keterampilan semacam itu mestinya bisa dipelajari  semua orang. Aku sering membayangkan Pak Mangkok adalah satu-satunya orang yang kukenal tak pernah memecahkan mangkok, malahan dia selalu berhasil merekatkan kembali serpihan-serpihan mangkok yang retak dan pecah. Kudengar sejak dulu, cerita dari mulut ke mulut tentang Pak Mangkok yang selalu menggunakan mangkok yang sama dan tak pernah mengganti perabotan tembikar peninggalan ayahnya, sejak ia lahir sampai sekarang. Cerita itu sangat terkenal dan seakan-akan cerita itu telah menjadi legenda populer di desa kami.

Empat belas tahun lamanya aku menyaksikan orang-orang memecahkan mangkok baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Semua orang menganggap kejadian itu adalah hal biasa. Kemudian, aku berpikir, apakah Pak Mangkok juga menganggap begitu? Kudengar dari orang-orang yang pernah menggunakan jasanya, Pak Mangkok memperlakukan semua mangkok yang pecah dan retak di tangannya dengan istimewa. Mangkok-mangkok itu dengan sukacita menerima sentuhannya sehingga dengan segera mereka kembali memenuhi tugas dan kewajibannya menampung apa saja yang dituangkan ke dalamnya tanpa membocorkan kandungannya barang setetes pun.

Empat belas tahun sudah aku memendam keinginanku untuk menemui Pak Mangkok di pondoknya dan membuktikan semua mitos tentang dirinya. Namun, baru kemarin aku dapat bertemu dengannya. Aku menemuinya sedang memancing di tepi danau, tidak jauh dari pondoknya yang kuperhatikan telah usang dan rapuh. Kudengar dan kusimak setiap kalimat yang meluncur dari bibirnya tentang mangkok yang selama ini menjadi sumber penghasilannya.

“Anak muda, seorang bayi yang baru lahir adalah secawan mangkok yang turun dari langit, yang dititipkan Tuhan kepada orangtuanya. Saya adalah secawam mangkok. Kita semua adalah mangkok. Namun, Tuhan tidak menakdirkan saya mengemban amanah seindah itu. Menjaga mangkok ciptaan-Nya.

Setiap orang mempunyai secawan mangkok dalam dirinya. Kebanyakan orang ingin memiliki sebanyak mungkin mangkok, apalagi mangkok-mangkok besar dan indah. Sayang, seribu sayang, mangkok-mangkok yang besar dan indah-indah itu biasanya selalu kosong, hanya dipajang di lemari-lemari kaca.

Semua orang pernah memecahkan mangkok, baik mangkoknya sendiri, maupun mangkok orang lain. Namun, hanya ada sedikit orang yang bisa memperbaiki mangkok yang telah dipecahkannya. Kadang-kadang mereka memilih memanggil tukang perbaikan mangkok seperti saya, tapi lebih sering mereka membuangnya begitu saja karena lebih suka membeli yang baru.

Anak-anak menginginkan mangkoknya diisi penuh-penuh, mangkok-mangkok mereka masih baru, belum lama dikeluarkan dari pabrik. Orang-orang dewasa menginginkan mangkoknya ditutup rapat-rapat, karena mereka tak menginginkan kandungannya berubah cepat. Sementara, orang-orang lanjut usia seperti saya saat ini menginginkan mangkok mereka segera diganti dengan yang baru.

Semua mangkok hanya menampung apa yang dituangkan orang ke dalamnya dan menumpahkan apa yang telah terkandung di dalamnya. Apabila retak, isinya yang bocor juga tetap mengeluarkan kandungan yang sama. Apabila pecah terbelah-belah, isinya tak dapat dikembalikan lagi dengan utuh. Meskipun begitu, kadang-kadang orang tetap berusaha memungutnya kembali, tetapi lebih sering mereka membuangnya.

Anak muda, saya adalah seorang tukang perbaikan mangkok dan selama hidup saya mangkok adalah benda yang paling akrab dengan saya. Walaupun demikian, selama hidup saya pula, saya selalu bertanya-tanya siapa sesungguhnya yang pertamakali menciptakan mangkok, siapa yang begitu cerdasnya mempunyai ide untuk membuat benda semacam itu. Karena itu, saya bukanlah orang yang ahli tentang mangkok, meskipun semua orang mengira begitu.”

Empat belas tahun telah berlalu sejak pertama kali aku jatuh hati pada pekerjaan Pak Mangkok dan kemarin aku tetap bersemangat mengetahui segala hal tentang mangkok dari Pak Mangkok.  Namun, sepulangnya dari situ, aku baru menyadari bahwa aku tak berhasil membuktikan mitos apapun tentang Pak Mangkok.

Empat belas tahun lamanya aku menganggap Pak Mangkok adalah tokoh legenda paling sempurna dari masa kanak-kanakku. Dalam legenda itu, dia adalah tokoh antagonis sekaligus protagonis. Dia adalah siluman mangkok, kadang-kadang berwujud mangkok, kadang-kadang berwujud penyihir. Sewaktu menjadi mangkok, dia adalah teman yang setia dan menyenangkan. Namun ia tak tahan banting, tak berdaya mengatasi goncangan. Sewaktu menjadi penyihir, dengan tongkat ajaibnya dia bisa mengembalikan wujud utuh mangkok yang sudah retak, seperti melakukan undo.  Namun, ternyata, dia tak bisa melakukan undo terhadap nasib mangkok manapun.

Empat belas tahun lamanya aku menyaksikan Pak Mangkok melakukan undo terhadap mangkok-mangkok orang sekampung, tetapi tak bisa melakukan undo terhadap nasib mangkok-mangkok itu. Karena itu, Pak Mangkok tidak bisa lagi bertemu dengan mangkok-mangkok kepunyaan orang lain seperti biasanya. Pak Mangkok tak bisa menyangkal kerinduannya pada mangkok-mangkok beraneka rupa dan warna yang dulu menunggu sentuhan lembut tangan kasarnya. Pak Mangkok tidak dapat menyembunyikan hasratnya untuk mengumpulkan dan merekatkan kembali serpihan-serpihan mangkok yang bertebaran di tempat-tempat pembuangan sampah. Nasib mangkok-mangkok itu tak lagi berada dalam genggamannya.

Empat belas tahun lamanya aku menunggu kesempatan untuk mempelajari seluk beluk mangkok dari Pak Mangkok. Namun, kemarin adalah hari terakhir Pak Mangkok memegang mangkok. Tadi pagi, keponakannya yang biasa berkunjung membawakan lauk pauk menemukan Pak Mangkok telah meninggal dunia. Dia terbujur kaku di antara semua perabot tembikar kepunyaannya. Semua perabot itu telah pecah dan retak, mungkin tak sengaja pecah, mungkin juga dipecahkan secara sengaja. Tak ada yang tersisa. Termasuk mangkok-mangkok peninggalan turun-temurun keluarganya. Serpihan-serpihannya berserakan memenuhi pondoknya yang kecil.

Empat belas tahun aku mencatat namanya dalam buku-buku harianku. Sekarang, Pak Mangkok telah tiada. Ketika baru pensiun, orang-orang sekampung belum merasa kehilangan. Sekarang, orang-orang tua dan mereka yang sebaya denganku, yang terbiasa mendengar suara lengkingnya dan terbiasa melihat kelihaiannya menangani barang pecah belah, mulai merindukannya. Sewaktu jenazahnya digotong bersama-sama ke masjid, kemudian ke tanah pemakaman, orang-orang tertegun dan takjub mendengar sayup-sayup suara dari kejauhan. Suara teriakan lengkingnya menawarkan jasa memperbaiki mangkok.

Empat belas tahun lamamya suara Pak Mangkok itu selalu terngiang-ngiang dalam kepalaku. Sekarang suaranya terdengar lagi, bahkan suaranya bertambah jelas dan nyaring, tatkala para pelayat mendekati kompleks pemakaman. “Perbaikan mangkok! Perbaikan mangkok!”

Empat belas tahun sudah berlalu. Kini, sang mangkok ajaib pecah berkeping-keping. Sementara, sang penyihir mangkok telah lenyap. Tepat ketika jenazahnya masuk ke liang lahad, satu persatu pelayat berubah menjadi mangkok. Ketika lubang kuburnya telah tertutup, mangkok-mangkok retak. Setelah itu, suara lengkingnya menghilang. Aku menangis.

Aku merasa Pak Mangkok menghampiriku. “Mungkin kita adalah mangkok hidup. Setiap kali pecah, tak ada sebuah mangkok pun yang bisa berubah kembali menjadi mangkok yang utuh, sesempurna bentuknya pertama kali. Setiap kali jatuh, tak ada seorang pun yang dapat kembali pada wujudnya semula. Meskipun sekarang aku hidup kembali,  mungkinkah aku dibutuhkan lagi seperti dulu? Jangan menangis, sayang. Selamat tinggal.”  Hanya suara bisikan itulah yang kudengar sebelum kutinggalkan pemakaman, dengan retak pada dasar wujud baruku. Pak Mangkok telah pecah berkeping-keping untuk selama-lamanya. @2001

*Cerpen ini telah ditolak dimuat oleh berbagai media massa. ^_^ 

Padang Bunga Wang dan Ma

(Terbit di Jurnal Nasional, 6 Sept 2009)


Tubuh-tubuh bersimbah darah menggelepar, berserakan dan tumpang tindih memenuhi padang rumput itu. Aku tak tahu mereka telah menjadi mayat atau tidak. Di puncak langit, kusaksikan sendiri seratus ribu serdadu berbaju besi dan berkepala batu menghunus pedang di tangan kiri dan menaruh moncong senapan di atas kepala para perempuan berkerudung warna-warni. Kendati kepala mereka menunduk, mereka tetap mengepalkan tangan kanan mereka dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Bisik hati mereka begitu jelas terdengar, memenuhi langit dengan gema menggelegar, “Allah Maha Besar!”
Sementara itu, para serdadu tetap mengancam dengan berbaris membentuk bintang, dan berdiri tegak sambil menyanyikan lagu The March of The People dengan suara lantang. Dadaku sebak dan sesak. Jika waktu adalah pedang, maka, tiba-tiba waktu seperti berhenti menebas segala sesuatu.
Ketika aku terbangun dari mimpi buruk itu, Kepala Biara tengah duduk di samping, memandangiku. Ibu memohon kepadanya agar aku pulang hari itu juga.
Namaku Wang. Dan, Ma, satu dari perempuan berkerudung pelangi itu, adalah kekasihku. Cinta pertama-ku. Juga cinta terakhirku.
Kami pertama kali bertemu di padang rumput itu tiga belas tahun lalu. Waktu itu, umur kami baru enam belas tahun. Bunga-bunga liar belum tumbuh dan mekar. Namun, Ma, telah tumbuh dan mekar di padangku.
Sejak mata saling beradu dan bibir saling melempar senyum, kami berdua terjatuh ke dalam Lembah Terlarang. Setiap senja duduk di sana, mengagumi padang rumput itu. Betapa padang rumput itu bagai permaidani sutra yang terbentang luas hanya untuk kami.
“Aku bukan gadis Han,” katanya suatu senja, seraya mengeluarkan sehelai kain sutra berwarna biru dari balik sakunya.
“Aku juga bukan pemuda Muslim,” kataku sambil menatapnya. “Tapi, kata para pujangga, cinta itu buta.”
Dia tersenyum, begitu manis, kemudian mengutip sepenggal sajak Li Bai yang terkenal. “Oh, engkau angin musim semi yang mengusik, engkau dan aku tak saling kenal, mengapa tanpa sebab-musabab – menyelinap memasuki tirai dan kelambu?
Aku tertawa kecil mendengar penggalan sajak itu. Aku merebut kain sutra dalam genggamannya dengan lembut. Aku melipatnya menjadi segitiga, kemudian menyelimuti rambut hitamnya. “Pakailah,” pintaku. “Jika angin bertiup terlalu kencang, rambutmu yang indah tak akan ternoda oleh debu.”
Dia pun membiarkan kepalanya kubungkus kerudung sutra itu. Dan, kami pun duduk cukup lama menunggu bunga-bunga liar tumbuh di padang rumput itu.
Tiga belas tahun kami menunggu. Tetapi, mereka selalu layu sebelum menjadi kuncup. Telapak sepatu para serdadu telah menyebabkan mereka terbunuh. Dan, Ma, letih menunggu. Ketika para serdadu mengusir kami dari Lembah Terlarang, dia memberikan kerudung biru itu untukku. Dia tidak pernah lagi muncul. Sejak saat itulah aku juga pergi, melenceng ke biara, menghancurkan harapan Ibu.
Aku masih ingat hari-hari terindah kami ketika Lembah Terlarang seperti surga dan bumi hanya milik kami berdua.
“Padang rumput ini seperti sajadah yang terhampar di rumahmu. Sajadah yang katamu ditenun di negeri kita, lalu dijual di Mekkah,” kataku memandangi padang rumput. Padang rumput kami.
“Kita pun bisa bersujud di sini. Tuhan pasti akan mengabulkan doa kita.”
“Doa apakah yang kaubaca ketika kau bersujud di atasnya? Apakah kau mendoakan aku? ”
Dia tergelak. “Aku bertanya kepada-Nya, apakah boleh aku mengalami reinkarnasi? Aku ingin kita bertemu kembali di tapal batas Dukha, lalu bersama-sama mencapai Nirwana.”
Aku tersenyum. “Kalau begitu, jangan biarkan aku pergi ke Lhasa untuk mencukur habis rambutku, hanya demi melupakanmu. Sebab, aku tak ingin terlahir kembali menjadi bunga liar di padang ini untuk menunggumu.”
Dia tertawa riang, membalas tatapanku. “Baiklah, tak akan kubiarkan kau hidup selibat, kecuali aku telah menjadi pengantinmu.”
Aku tertawa dan mengerling. “Bagaimana kalau Tuhan menjawab pertanyaanmu? Jika kau diperkenankan Tuhan, kau ingin menjadi apa pada kehidupan yang akan datang?”
Dia tersenyum seraya memandang kaki langit. “Aku ingin menjadi eideilweiss,” katanya.
Kemudian, dia menoleh dan menatapku. “Aku ingin abadi di padang bungamu,” bisiknya.
Aku pun teringat sepenggal sajak Du Quiniang. “Menasihatimu…jika bunga sedang mekar, andai boleh dipetik dan disunting, engkau harus memetiknya, jangan tunggu sampai bunga telah tiada, baru sia-sia kau memetik ranting hampa,” bisikku.
Wajahnya merah padam. Seperti buah persik yang telah ranum. Aku mengabadikannya dalam benakku.
Malam yang gelap dan pekat telah membawaku jauh ke dalam sebuah lorong, bangsal-bangsal yang suram, aroma-aroma kimiawi yang menyengat hidung, dan suara samar-samar yang merintih.
“Siapa itu?” Desahnya terlalu pelan begitu mendengar suara kakiku melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Aku memandangi wajahnya. Dia telah benar-benar-benar memucat pada saat itu. Tetapi, aku masih mengaguminya. Mengagumi senyuman yang masih menghiasi bibirnya. Bibir yang masih merah jambu. Seperti masih tersisa sekuntum mawar merah pada wajahnya yang tampak semakin membeku, diliputi selapis demi selapis salju.
“Wang Wei. Kau datang.” Burung-burung camar seperti keluar dari dalam jiwanya. Terbang. Bermigrasi ke belahan bumi lain yang lebih hangat.
Aku mengutip kembali penggal pertama sajak Rindu di Musim Semi-nya Li Bai. Sajak yang pertama kali dia kutip untukku.
Oh, rumput musim semi tanah Yan, baru hijau tua seperti sutera; sementara pohon murbeiku di tanah Qin, terlebih dulu merunduk berat, tangkai lunaknya hijau muda. Ketika hari-hari engkau rindu kembali rumah, hari-hariku jua rindu dendam padamu. Oh, engkau musim semi…”
“Kau benar-benar mencukur rambutmu. Tak tersisa sehelai pun untuk aku,” lirihnya. Aku masih memandangi wajahnya. Dia semakin pucat, membiru, memutih, lalu menjadi begitu kelabu. Dan, aku masih juga mengaguminya. Mengagumi matanya yang masih bersinar-sinar. Seperti masih ada bintang terang di sana, menggantung di langit, di antara gumpalan awan kelabu.
Aku tertawa pelan, menatapnya dalam-dalam, dan menggenggam tangannya erat-erat.. “Tidak. Aku menyimpan sehelai untukmu dalam kerudung biru darimu.”
“Maafkan aku.” Dia merintih dan balas menatapku. Kami saling memandang, membiarkan waktu berhenti seketika dalam keheningan.
“Mengapa para serdadu ingin merampas sajadahku? Mengapa mereka ingin merampas tasbih di tanganmu?” gumamnya tiba-tiba. Dia menoleh, mengamati butir-butir tasbih yang kukalungkan di leher.
“Nenek moyang mereka dan kita berdua sama,” gurauku.
“Temujin?” tawanya berderai.
“Kalau saja kita bisa punya anak laki-laki, aku pasti akan memberinya nama Zheng-he.”
Dia tertawa lirih. “Kau seharusnya menjadi Kaisar Ming pertama. Aku akan menjadi permaisurimu. Bayangkan, kita berdua duduk di atas singgahsana, dikelilingi para pendekar dan para hulubalang, dengan diberkati para biksu dan ulama.” Aku melihat padang rumput kami di matanya. Lembah Terlarang begitu lapang tanpa para serdadu bersenjata laras panjang.
“Tetapi, aku berjanji, aku tidak akan mempunyai selir,” gurauku lagi. Aku melihat padang rumput kami pelan-pelan berbunga di mata dan bibirnya.
“Kau tahu. Aku ingin hidup abadi. Seperti eideilweiss. Kalau pun tidak, aku ingin terlahir kembali. Menemanimu menunggu padang rumput kita menumbuhkan bunga-bunga. Melahirkan anak-anakmu. Tak peduli seperti apa wajah mereka, atau bendera apa yang mereka kibarkan. Melihat mereka bermain di padang bunga kita.”
“Aku akan membiarkan seluruh rambut di kepalaku tumbuh kembali demi menunggumu di padang rumput itu.”
Dia tersenyum. “Kalau aku mati, aku akan merindukanmu. Bagaimana denganmu? Kitab suciku bilang, aku tidak akan benar-benar mati. Aku masih hidup dan berkeliaran, hanya saja kau tak bisa melihatku lagi.”
“Aku tidak ingin kau mati. Aku tidak ingin merindukanmu.” Mungkin, suaraku terdengar hampa.
Ma berbisik dengan tersenyum, “Hari ini adalah hari terakhir kita. Aku bilang pada-Nya, biarkan menunggumu datang..”
Kutahan air mataku, kugenggam erat tangannya. “Kau percaya pada-Nya. Kau pasti akan sembuh. Luka-lukamu akan pulih kembali. Dan, Dia akan memberikanmu kehidupan yang panjang di dunia ini.”
Ma tersenyum. “Apakah para raja tidak pernah merasa puas dengan luas kebun dan hutan yang mereka miliki?”
“Jika tidak, maka Tembok Besar tak perlu dibangun.”
“Dan, kami tak perlu menuntut untuk menatap langit dengan cara kami sendiri.”
“Ya. Seperti kau.”
“Seperti orang-orang Kurdi yang tersesat di negeri sendiri. Seperti orang-orang Rohingya yang diusir dari kampung halaman sendiri. Seperti orang-orang Patani yang tak punya raja di kerajaan sendiri. Seperti…”
“Seperti aroma tubuhku. Apakah kau tak menghirup sisa nafas Dalai Lama pada kainku?” tukasku.
Ma tersenyum lebar.
“Boddhisatva-ku. Jika kau lebih dulu mati, apakah kata-kata terakhirmu?”
Aku terdiam, berusaha menerobos masuk ke dalam matanya. “Aku mencintaimu.” Bunga-bunga seperti keluar dari mulutku. Mereka mengecup bibir Ma yang merah jambu.
Ma terdiam. Mungkin puas mendengar jawabanku. Lalu, dia merintih beberapa kali. Tidak lama kemudian Ma memejamkan matanya tanpa berkata sepatah kata apapun. Dia hanya menggenggam erat tanganku. Dia hanya tersenyum sebentar, sebelum benar-benar terlelap.
Aku menyusuri lorong yang gelap lagi, aroma-aroma kimiawi yang memabukkan isi perutku, dan dinding-dinding suram sepanjang koridor yang seolah-olah selalu berbisik kepadaku, mengabarkan datangnya malaikat-malaikat pencabut nyawa. Seperti yang diyakini Ma seumur hidupnya. Mereka ada di mana-mana di sekitar situ. Salah satunya mungkin akan pergi ke sisi Ma. Aku berlari ketakutan, benar-benar ketakutan, membiarkan kakiku masuk ke dalam sebuah ruangan terang-benderang. Nama-nama Tuhan yang Maha Indah diukir di sana. Aku menangis ketakutan. Benar-benar menangis. Memohon dengan perasaan nyaris putus asa.
“Allah, Tuhan kekasihku, jangan ambil kekasihku sekarang. Dia masih muda. Dia masih bisa melahirkan sepuluh orang putra dan dengan begitu darahnya tidak akan mengalir sia-sia…”
“Mengapa kau tidak pernah mencariku lagi, malah pergi mengembara dari puncak ke puncak di Himalaya?” Terngiang-ngiang kembali suara Ma pada hari kedua kami di sempadan dua alam
“Aku mengembara dan mengumpulkan puisi-puisi yang indah untukmu.”
“Seandainya para raja dan serdadu setiap hari mendengar para penyair membaca sajak cinta.”
“Aku masih ingat puisi Sa’di yang pernah kaubacakan untukku.”
“Para penyair Sufi mengagumi orang-orang seperti engkau.”
Aku tersenyum. Kukutip sepenggal paragraf dari Gulistan.
Sebuah taman yang hijau sangat menyenangkan. Dia yang benar-benar memahami akan mengatakan hal itu. Sesungguhnya rasa tertarik dan cinta pada hamparan hijau, akan selalu memuaskan hati pencinta; Tamanmu adalah tempat tidur yang nyaman. Semakin engkau melebarkan, semakin mereka akan tumbuh.
Dia tersipu. “Tidurlah, dan jangan kembali bertapa di dalam gua.”
“Hanya jika kau mau kembali ke Lembah Terlarang.”
“Kakekku telah gugur dengan sebutir peluru di kepalanya. Dia adalah putra dari para kekasih di Lembah Terlarang seperti kita,” kenangnya.
“Seorang Cina sejati yang selalu mengenakan tutup kepala dari Mekkah,” gumamku, ikut mengenang wajah tua renta yang separuh darahnya mengaliri tubuh kekasihku. Dia adalah anggur dalam cawan dengan campuran anggur dari kebun-kebun di setiap penjuru Cina.
“Dia mencintai seorang wanita Uyghur seumur hidupnya. Nenekku. Hari itu, mereka berdua berdiri dengan gagah tanpa perisai anti peluru, tanpa senjata,” ujarnya.
“Sejak Tuhan menciptakan Lembah Terlarang, leluhurku telah berpindah-randah.seluruh Cina dan Asia Tengah. Tetapi, Xin Jiang selalu menjadi kampung halaman kami. Kami akan selalu kembali. Meski Jalan Sutra telah menjadi kenangan. Meski anak-cucu kita telah lupa bahwa mereka tidaklah murni berdarah Han atau Hui, Chin atau Mongol, Manchu atau Salar, Buryat atau Uzbekh, tidak, tidak. Untuk itulah Lembah Terlarang ada.”
“Kalau begitu, biarkanlah perjalananmu berakhir di sini. Bersamaku. Aku pun tak akan kemana-mana lagi. Aku telah kembali hanya untukmu.”
Dia tersenyum. “Seperti kata Sa’di juga. Aku tidak bisa menunda perjalanan lain yang telah menungguku.”
Jendela-jendela yang tadi ia buka, tiba-tiba ia tutup lagi. Kemuraman yang sejenak memudar, terbit kembali pada suaranya. Kami saling diam membisu. Aku tidak mau membantahnya untuk saat sekarang. Aku merasa lebih baik membelai rambutnya. Memandangi matanya yang masih bercahaya. Menatap bibirnya yang masih merah.
Aku kembali menyusuri lorong dalam kegelapan malam, koridor yang muram, kembali mencium bau obat-obatan, formalin, disinfektan, semua aroma penderitaan dan kematian itu. Samsara.
Di ujung lorong, aku duduk, sendirian, membuka halaman demi halaman kitab Sutra Hati. Dalam kemuraman dinding-dinding di lorong ini, kedukaan dalam ratapan di langit-langit bangsal ini, dan keheningan di ruangan penuh kaca ini. Aku cemas, menunggu para dokter dan para perawat menolong Ma menghadapi komplikasi pasca operasi. Beberapa peluru telah melubangi tubuhnya, tetapi dia dapat bertahan hidup sampai aku muncul.
“Wang Wei? Kaukah itu?” Sebuah suara memanggilku dari kejauhan. Sosok itu kemudian mendekat.
“Kapan kau akan ditahbiskan?” tanyanya.
“Dokter Li.” Aku menatap sahabat lamaku itu dengan penuh harap. “Bagaimana keadaannya?”
Dia mendesah. “Kau pernah dengar, mereka percaya bahwa orang-orang yang membela tanah air dan gugur, maka mereka yang gugur itu hidup bahagia di surga?”
Aku mengangguk. Aku kehilangan kata-kata.
“Kau sudah dengar bencana alam di Yunnan?”
Aku menggelengkan kepala.
“Setiap kali bumi memuntahkan peluru ke langit, dan para serdadu merenggut nyawa orang-orang tak berdosa, langit kehilangan cahayanya, dan bumi menjerit meratapi kematian mereka,” jawabnya dengan suara tercekat.
Oh! Jernih sekali dalam ingatanku. Tuhannya telah menjemputnya pada subuh itu. Jum’at yang sunyi dan lengang. Dengan setetes embun di bibirnya yang merah jambu, dan sebongkah es pada kedua belah tangannya, nyawanya menguap di udara, meninggalkan jejak bau wangi eidelwess. Keberaniannya, keberanian kakek dan neneknya, mengingatkan aku pada saudara-saudaraku di Myanmar. Betapa hari itu bagiku langit dan bumi ikut bersenandung paritha bersamaku.
“Sayangku, kita lahir pada zaman yang gila, silsilah yang kacau-balau, dan negeri yang terlalu sempit untuk satu setengah milyar anak-cucu Adam. Kalau tidak, kau pasti masih hidup. Dan kita bisa bercinta seperti kekasih-kekasih yang lain.” Aku bergumam. Kupandangi tanah makamnya yang masih basah dan bertabur bunga-bunga.
“Sa’di bilang, Jika Majnun dan Laila hidup lagi. Mereka mungkin akan tertarik dengan dongeng cinta yang terjadi saat ini. Dan, biar kukatakan padamu, aku tak peduli. Sekali pun jika Romeo dan Juliet lahir kembali di tengah-tengah Palestina dan Israel. Atau Khusraw dan Shirin menjelma kembali di antara ledakan bom di Irak dan Afghanistan.” Aku berteriak tanpa suara. Aku menjerit tanpa lengkingan.
Hari itu, setelah semua orang meninggalkan tanah pemakaman semua korban kerusuhan, aku kembali ke padang rumput tempat kami biasa menghabiskan senja. Berdiri dari kejauhan sudah cukup bagiku untuk memandangi padang rumput kami berdua.
“Kita akan hidup bersama-sama di kehidupan yang akan datang,” seruku pada sekalian alam. Harum eideilweiss tiba-tiba menyeruak, menggantikan aroma bahan-bahan kimia yang masih melekat pada kainku. Aroma yang seharian membuatku ingin muntah. Betapa harum semerbak itu membuatku segar kembali.
Kupandangi padang rumput kami dengan mata berbinar-binar. Betapa menakjubkan! Bunga-bunga liar beraneka warna telah tumbuh di sana.
“Itu padang bunga kita, Wang Wei. Padang Bunga Wang dan Ma.” Terngiang-ngiang kembali senandung cerianya. Kupandangi hamparan padang bunga kami dengan membayangkan wajahnya. Kerudung birunya. Mata sipit Bortu yang diwarisinya. Hidung mancung Shahrabanu yang diwarisinya. Bibir merah delimanya, yang tak pernah kucicipi kelezatannya. Mungkin seperti daging panggang yang telah lama haram bagiku.
Sayup-sayup, aku mendengar suaranya. Dia mengucapkan Amitabha padaku. Dia mengucapkan selamat tinggal padaku. Ingin kubalas. Namun, lidahku membatu. Benakku kosong. Koan.
@ Juli, 2009.

  1. sajak-sajak Li Bai dan Du Quiniang dikutip dari buku Sajak-sajak Klasik Dinasti Tang terjemahan Wilson Tjandinegara dan ungkapan-ungkapan Sa’di dikutip dari buku Gulistan terjemahan Manda Milawati.
  2. Bortu adalah nama istri pertama Temujin (Jengis Khan)
  3. Shahrabanu adalah nama salah satu istri Husein bin Ali bin Abu Thalib, seorang putri Persia.

Turpan, Xin Jiang:

~ Permaidani Dunia, Jalinan Benang Sutra

antara bangsa Cina dengan bangsa Arya (Persia, India)  dan Semit (Arab, Yahudi, dll) ~

Bola Api Yang Bergulir

(terbit di Majalah Sastra Horison, September 2009) 

Aku adalah salah seorang keturunan Iblis yang mewarisi sebuah bola api bernama Matahari. Aku panas dan membara.

Pada suatu ketika aku pergi diam-diam dari singgahsanaku dan pergi ke Bumi. Aku menjelma sebagai anak manusia bermata biru dan berambut pirang. Aku menarik perhatian orang-orang ketika aku menciptakan api di tengah-tengah pasar hanya dengan kedua tatapan mataku. Ketika mereka menanyakan namaku, aku bilang namaku Zeus. Kemudian, aku mengembara dari negeri ke negeri untuk melihat keindahan Bumi. Setiap singgah di suatu tempat aku menunjukkan kemampuanku menyalakan api dengan kedua bola mataku. Setiap singgah di suatu negeri aku selalu menyebut namaku dengan nama yang berbeda-beda. Kadang-kadang Baal. Kadang-kadang Sol. Kadang-kadang Ra.  Mereka mengira aku lebih hebat dari para penyihir dan tukang nujum mereka. Setiap kali pergi, aku berikan kepada mereka patung-patung yang kuukir dengan mata dan tangan panasku sebagai kenang-kenangan. Lalu, mereka menyembahku sebagai dewa.

Di setiap negeri aku menggauli wanita-wanita tercantik, yang berambut emas, yang berambut jerami, yang berambut tembaga, yang berambut perunggu, yang berambut perak, maupun yang berambut arang. Tak peduli apakah mereka masih perawan atau tidak, telah menikah atau sudah bertunangan. Selama kulihat mereka cantik rupawan, aku mendekati dan meniduri mereka. Hera, Osiris, Madonna dan Fortuna hanya sedikit dari seribu satu wanita yang telah menjadi istriku.

Di setiap negeri aku membeli budak-budak baru yang paling kuat dan paling terampil, sekaligus paling penurut. Aku telah membeli Nimrod dari kakek buyutnya, kemudian kusuruh ia mengawini ibunya yang cantik. Aku telah membeli Namrud dari orang-orang Babilonia. Telah kubeli pula para firaun dari Mesir. Kujadikan mereka raja dari para raja, dan kuperintahkan mereka untuk selalu berterimakasih atas jasa-jasaku.

Pada suatu hari, ketika kulihat badai gurun telah memporakporandakan banyak negeri, ketika kusaksikan mukjizat para nabi telah merebut hati anak-anak manusia, aku ketakutan dan patah hati. Lalu, diam-diam kembali ke singgahsanaku.

***

Namaku Iskandar. Aku adalah putra mahkota dari Makedonia. Pada suatu pagi aku mendengar mahaguruku Plato bercerita tentang Matahari; bola api yang sangat indah. Matahari selalu menerangi Bumi, selalu memberi kehangatan dan selalu memulihkan kehidupan yang suram setelah gelap semalaman. Banyak orang percaya bahwa di sana ada dewa-dewa yang bisa memberi kehidupan dan mengambil kehidupan dengan apinya yang membara. Aku tidak percaya karena tidak pernah melihat mereka. Tetapi, aku bersumpah akan menjadi seperti Matahari. Aku akan menjadi dewa.

Aku tidak tahu ini kebetulan atau tidak. Ibuku mengaku padaku sebelum ia meninggal dunia, bahwa menjelang malam pengantinnya dengan ayahku dia bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat tampan, matanya berwarna biru dan sangat indah. Laki-laki itu berhasil menyusup ke dalam kamarnya, kemudian menggoda dan merayunya.  Ibuku tidak dapat menolak godaan dan rayuan laki-laki asing itu. Mereka diam-diam keluar menembus langit malam.

Mereka pun naik ke atas gedung pencakar langit, kemudian bercinta di bawah sinar rembulan. Setelah matahari terbit, mereka terbangun dan berpisah di ujung langit. Laki-laki itu berkata pada ibuku bahwa namanya adalah Zeus dan ia ingin mengajak ibuku menjadi seorang bidadari di langit. Namun, ibuku tidak pernah terpesona oleh keindahan pelangi. Dia tidak ingin meninggalkan Bumi. Maka, dia mengucapkan selamat berpisah kepada Zeus dan kembali ke kamarnya, lalu menjadi istri dari ayahku – yang sekarang telah kuragukan sebagai ayah kandungku.

Maka, setelah ayahku tewas dibunuh, aku menjadi raja. Aku telah bersumpah menjadi Matahari, dan aku akan menaklukkan Bumi dengan sinar terangku di seluruh penjurunya. Dengan kuda-kuda yang paling tangguh dan paling gesit, aku menjelajahi negeri demi negeri untuk kutaklukkan. Dengan serdadu-serdadu yang paling kuat dan paling berani, aku menghancurkan semua benteng dan mengalahkan semua musuh. Dengan pedang-pedang yang paling tajam dan paling kokoh, aku membunuh semua raja dan memenggal para tentara yang tidak mau tunduk padaku.

Di setiap negeri yang kujajah, telah kukawini wanita-wanita yang tercantik, wanita-wanita bermata biru, hijau dan coklat. Kuperintahkan para seniman memahat aku dan mereka dengan wajah-wajah yang paling indah. Kuperintahkan para sastrawan mencatat namaku dalam kitab-kitab mereka dengan kisah-kisah yang paling ajaib dan paling mustahil.

Di atas sebuah padang pasir tak bertuan, aku membangun kota yang paling megah yang pernah ada pada zamanku. Aku berdiri di atas puncak bukitnya, lalu memanggil nama ayah kandungku. Aku menantangnya dan berkata padanya bahwa aku lebih hebat daripada dia. Dengan tiba-tiba, api mengaliri rumah-rumah di kotaku, sehingga semua rumah dan bangunan menjadi terang-benderang.

Ketika aku kembali dari atas bukit, sekujur tubuhku panas membara karena angkara murka ayahku. Aku menderita sakit selama berhari-hari dan akhirnya bisa kulihat lorong kematian di tengah padang pasir. Ia begitu nyata di depan mataku. Sambil diseret ke sana, mengerang kesakitan dan menyesali semuanya, aku menoleh sekilas. Kulihat, semua orang masih masih memujaku sebagai Iskandar Agung.

***

Namaku Temujin. Ayahku adalah kepala suku dari kaum penggembala dan peternak di padang Mongolia yang gersang. Setelah para musuh ayahku berhasil membunuhnya dengan susu beracun, aku dan seluruh keluargaku menjadi pelarian dan pengungsi di negeriku sendiri.

Pada suatu saat, dalam masa pengungsian yang penuh air mata, ibuku bercerita bahwa ayahku pernah pergi berburu dan kembali dengan keadaan aneh. Dia sudah kerasukan jiwa Kutula Khan (Dia adalah idolaku dan idola semua anak-anak Mongolia seusiaku. Konon dia adalah seorang raksasa yang sangat perkasa).

“Akulah Kutula Khan dan aku adalah putra Dewa Matahari. Aku tidak takut api, angin musim dingin apalagi hujan badai. Aku sudah sering mematahkan musuh-musuhku bagai mematahkan anak-anak panahku. Aku belum kenyang kalau belum makan seekor domba gemuk dan segentong susu!” Begitu pekik ayahku sambil menunjukkan babi hasil buruannya. Kemudian, setelah memancarkan sinar api dari kedua bola matanya untuk memanggang babi itu, ayahku menggauli ibuku. Sembilan bulan kemudian aku lahir ke dunia.

Maka, aku pun bersumpah akan menaklukkan Bumi seperti Matahari. Berburu pada musim semi sambil menunggang kuda yang bagus sama sekali bukan kebahagiaan bagiku. Menikahi wanita cantik dan membangun keluarga yang harmonis sama sekali bukan kebahagiaan yang harus kucapai. Membalas dendam dan membunuh musuh keluargaku bukanlah kebahagiaan terbesarku. Aku harus sehebat Matahari dan lebih hebat daripada Kutula Khan. Kebahagiaan terbesar bagiku adalah menaklukkan semua musuhku, memburu mereka sampai tertangkap, merampas harta benda mereka, mendengar ratapan dan jeritan kerabat dan anak-anak mereka, mengendari kuda-kuda mereka, serta memperkosa istri dan anak-anak gadis mereka.

Dengan pasukan kecilku, aku telah berhasil membalaskan dendam orangtuaku. Dengan pasukan kecilku, aku telah berhasil merebut kembali tahtaku. Lambat-laun aku berhasil memperbanyak tentaraku, meningkatkan semangat perang mereka, dan memimpin mereka ke negeri-negeri yang jauh untuk kutaklukkan. Seluruh padang Mongol telah kukuasai, bahkan bangsa Cina, Rusia dan Persia yang lebih modern telah berhasil kutundukkan.

Di Baghdad, aku berdiri di atas mimbar masjid dan berseru kepada semua orang, “Aku telah diutus sebagai cemeti Tuhan, untuk menghukum orang-orang yang penuh dosa!”

Telah kuhancurkan kota-kota mereka. Telah kulempar semua kitab-kitab mereka ke dalam sungai, sehingga warna sungainya berubah oleh warna tinta. Telah kuperkosa semua perempuan cantik mereka, sehingga mereka tak bisa lagi menyembunyikan keelokan paras mereka di balik cadar-cadar mereka. Telah kurebus semua pemimpin-pemimpin mereka yang membangkangku, merebus mereka dalam air yang mendidih dalam belanga besar. Semua kuda-kuda terbaik mereka telah menjadi milikku. Begitu pula istana-istana mereka yang paling indah di dunia.

Di samping Bortu, istriku yang paling setia, aku tak bisa mengalahkan malaikat pencabut nyawa. Maka aku wasiatkan kepada seluruh keturunanku, kepada semua anak-anak dari perempuan-perempuan yang telah kugauli, aku akan mewariskan kepada mereka bola-bola api yang paling indah, sekaligus paling panas di muka bumi ini. Aku berpesan kepada mereka untuk terus menaklukkan dan menghancurkan negeri-negeri yang memusuhiku, negeri-negeri yang memanggil kaumku sebagai bangsa biadab dan barbar. Kemudian, sambil melihat tatapan garang malaikat pencabut nyawa, dan mencoba untuk bernafas sekali lagi, aku masih bisa mendengar bisikan seseorang. Entah siapa.

“Jengis Khan telah mati. Dia akhirnya mati.”

***

  Namaku Adolf dari Austria. Aku telah bekerja dalam banyak bidang sebelum orang-orang mengenalku sebagai tentara yang gagah berani – aku pernah menjadi tukang cat, mahasiswa seni dan pedagang keliling.

Sewaktu kanak-kanak, aku sering disiksa oleh ayahku. Setiap sore menjelang hari Sabat seorang nenek selalu lewat dan mencela ayahku. Dia adalah seorang perempuan Yahudi yang tak pernah melepaskan kerudung dari rambut keritingnya. Dia sering menghina ayahku sebagai anak haram. Katanya, kami semua tidak layak terlahir ke dunia.

“Pada suatu sore menjelang malam Sabat, anak lelakiku yang paling tampan tertidur ketika ia sedang membaca buku. Kemudian, dia terbangun dan menyadari bahwa api lilin mendadak mati tertiup angin. Dia merasa angin itu menembus tubuhnya. Seorang laki-laki asing tiba-tiba masuk dari jendela, menyapanya, dan menatapnya dengan kedua bola matanya yang biru dan sangat menawan. Kemudian lelaki itu tiba-tiba lenyap dari pandangannya. Anakku berdiri dan berjalan ke arah dapur untuk mendapatkan api.  Sebuah bisikan yang aneh mendorongnya untuk mendekati seorang pelayan yang sedang memasak air. Dia mencengkeram dan memeluknya. Lalu, dia memperkosa pelayan itu sampai tepat ketika waktu Sabat tiba. Sembilan bulan kemudian, perempuan itu melahirkan seorang bayi laki-laki. Dia bersujud memohon agar aku menerimanya, tetapi demi Tuhan, aku tahu bayi itu bukan cucuku!”

Begitulah suatu hari aku mendengar perempuan itu bercerita kepada beberapa orang tentang ayahku. Setiap hari aku menggambar muka nenek buyutku yang tidak cantik, sambil mencari tahu bagaimana wajah kakek kandungku sebenarnya. Kendati begitu, aku tidak yakin apakah dia benar-benar dia nenek buyutku. Dan, aku tidak pernah lagi memikirkannya, karena tidak lama kemudian aku meninggalkan rerumputan Austria yang dingin untuk menjadi serdadu. Setelah puas memegang senjata, aku belajar menulis dan belajar menjadi politisi.

Aku telah menulis pesan kepada seluruh dunia tentang rencana-rencanaku untuk menguasai dunia. Aku mendirikan sebuah partai politik. Dan, aku telah bertekad untuk menguasai Jerman sebagai langkah awalku.

Maka, akhirnya aku dan partai Naziku berhasil menaklukkan Jerman. Kepada semua rakyat Jerman aku serukan bahwa hanya orang-orang dari ras Arya yang paling hebat dan paling mampu menguasai dunia. Kepada semua rakyat Jerman aku sebarkan gambar-gambar sketsaku tentang wajah nenek buyutku yang buruk rupa, dan sejak saat itu aku bersumpah untuk membantai semua orang Yahudi di muka bumi ini.

Mula-mula aku berdiri di atas tahtaku sebagai Firaun baru dan mengambil semua orang Yahudi sebagai para budak untuk pabrik-pabrikku. Karena kuanggap semua orang cacat tidak berguna dan hanya menambah beban keuangan negara, aku menyembelih mereka semua tanpa belas kasihan. Kemudian, setelah kutahu bahwa orang-orang Yahudi tetap sombong dan arogan sebagai budak-budakku, malah kemudian mereka terus beranak-pinak, maka kubangun kamar-kamar gas beracun untuk membunuh mereka semua tanpa pandang bulu – mula-mula orang lanjut usia, lalu anak-anak, lalu perempuan-perempuan dan laki-laki mereka.

Aku berkata di depan taman pemakaman keluarga kakekku dengan bangga, “Aku tahu kisah tentang Musa ketika dia membunuh seorang anak. Khidir melihatnya dan marah kepada Musa. Musa kemudian menjelaskan bahwa dia membunuh anak itu karena kelak dia akan membunuh orangtuanya sendiri.” Aku tertawa terbahak-bahak.

“Telah kubantai semua orang Yahudi sebelum mereka menghancurkan dunia impianku seperti engkau telah menghancurkan masa kanak-kanakku!”

Aku benar-benar puas saat melihat para lelaki Yahudi murka melihat para tentaraku memperkosa para wanita mereka. Aku benar-benar puas saat melihat para perempuan Yahudi meratapi kematian ayah dan suami mereka. Aku benar-benar puas melihat orang-orang tua menangisi kematian anak-anak mereka. Aku bahagia melihat mereka tercerai-berai, bekerja keras tanpa makanan yang layak, berbaju loreng-loreng seperti narapidana, tak pernah menari dan tak pernah mandi lagi, kemudian tidur berjejalan bagai ikan tuna dalam kaleng. Aku bahagia melihat mayat-mayat mereka bergelimpangan di kamar-kamar gasku.

Kendati aku tahu hidupku tidak abadi, tetapi namaku akan abadi dalam sejarah. Aku tidak tahu kalau aku akan dikalahkan, dan aku tidak tahu kalau Jerman dan seluruh negeri yang telah berhasil kutaklukkan akhirnya direbut kembali dari tanganku. Meski begitu, semua orang mengenalku. Namaku terpatri dalam benak mereka sebagai tuhan bangsa Arya yang paling kejam dan brilian.

Akulah Adolf Hitler. Kedua tanganku telah mewarisi bola api dari benih yang ditanamkan ke dalam rahim nenekku. Seluruh dunia tahu wajahku yang menakutkan. Karena itu, aku sebenarnya tidak pernah mati. Aku bahkan telah mewariskan bola api itu kepada musuh-musuhku yang hidup kembali dari padang-padang pembantaianku. Dan, “Heil Hitler!” pun masih bergema di sudut hati mereka.

***

Namaku adalah Colombus. Kau tahu aku sudah lama mati. Ya, itu benar, tetapi juga tidak. Aku sebenarnya makhluk abadi. Sampai sekarang aku masih hidup, karena aku selalu terlahir kembali. Kadang-kadang aku menjadi George. Kadang-kadang aku menjadi John. Aku pernah menjadi Ronald, William, Richard dan lain-lain.

Pada suatu pelayaran yang seolah-olah tiada berujung, aku menemukan benua yang nyaris kosong dan hanya dihuni oleh sedikit orang barbar berkulit merah dengan bulu-bulu aneh di atas kepala mereka. Setengah milenium kemudian seluruh keturunanku dan seluruh keturunan awakku telah memenuhi benua ini dan menganggap benua ini sebagai tanah-tanah kami.

Ibuku pernah bermimpi memakan matahari beberapa hari sebelum malam pengantinnya. Matahari itu seperti bola api yang sangat besar berwarna jingga, mendekati ibuku, seolah-olah terlempar ke dalam mulut ibuku dan  tertelan begitu saja ke dalam perutnya. Sembilan bulan kemudian aku lahir ke dunia dengan sepasang mata biru, padahal ayah dan ibuku bermata hijau.

Aku tidak pernah mencapai kebahagiaan impianku seumur hidupku, kecuali penemuanku yang membuat bangga ratuku. Karena itu, aku selalu ingin terlahir kembali ke dalam tubuh anak-anak di benua ini.

Sekitar lima puluh tahun lalu, aku terlahir kembali sebagai anak laki-laki bernama George. Sebelum mengandung aku, ibuku juga bermimpi memakan matahari.

Limapuluh tahun kemudian aku kembali ke Gedung Putih. Sambil memandangi langit di atas kepalaku, aku tiba-tiba merasa bahwa selama ini Bumi adalah mangsa empuk sang Matahari.

“Paman buyutmu Jengis Khan pernah berhasil menaklukkan Baghdad. Anaknya Ogotai pernah berhasil menaklukkan Afghanistan. Dari Rusia sampai Cina, Dari Persia sampai India, semua keturunannya telah menaklukkan hampir seluruh dunia. Sekarang tibalah saatnya era kejayaanmu!” bisik sebuah bola api dalam mimpiku menjelang malam inaugurasi.

Maka, seperti Jengis Khan, aku mulai melatih lebih keras pasukan tentaraku. Sejak aku mati sebagai pahlawan kalah perang dari Vietnam, para serdaduku menjadi lembek dan pengecut dan jumlahnya semakin sedikit. Maka, aku merekrut sebanyak-banyaknya pemuda untuk menambah jumlah tentaraku. Maka, aku melatih tentaraku dengan disiplin keras. Aku juga mengajarkan teknik-teknik teror dan kekejaman yang canggih kepada mereka. Aku melobi semua pihak untuk mengucurkan dana bagi pasukanku. Aku membeli tank-tank terbaik, jet-jet tempur tergesit dan senjata-senjata tercanggih untuk melengkapi pasukanku. Setelah semuanya selesai aku mengirim mereka menyerang musuh-musuhku di Bagdad dan Afganistan. Dengan dalih balas dendam, semua sekutuku pun mendukung semua rencanaku dengan sepenuh hati.

Aku puas karena aku berhasil mengalahkan semua musuhku. Ketika kuhancurkan ibukota mereka, seperti idolaku Jengis Khan, aku berdiri di atas mimbar masjid mereka sambil berkata, “Aku adalah cemeti Tuhan yang  diutus untuk menghukum para pendosa di negeri ini! Jika kalian tunduk dan patuh padaku, aku akan memberikan wortel-wortel berlimpah untuk kalian makan sepanjang hidup kalian. Tetapi, jika kalian membangkang dan melawanku, atas nama Tuhan aku akan mencambuk kalian dengan cemeti di tanganku!”

Ah! Aku puas melihat para serdaduku telah menduduki semua benteng dan setiap jangkal tanah mereka. Aku puas melihat para serdaduku telah merampas semua harta dan jiwa mereka. Aku puas melihat para serdaduku memperkosa semua perempuan mereka dan membantai anak-anak mereka.

Dengan bola api yang kuwarisi dari para dewa yang kusembah diam-diam sepanjang doaku, aku puas karena namaku telah tercatat dalam sejarah umat manusia. Aku bangga bersangga bersama Iskandar Agung, Jengis Khan, dan Adolf Hitler.

***

Aku tidak akan memberitahu kepadamu siapa namaku. Aku khawatir engkau akan mengira aku Semit dan kalau kau membenciku karena perbuatan-perbuatanku maka seluruh dunia akan mengecapmu sebagai anti-Semit.

Kau tahu, orang-orang bahkan wajib membenci para pembom beragama Islam, mencap mereka teroris dan tak seorang pun khawatir dianggap sebagai anti-Islam. Kau tahu sebagai pembom, pemburu dan pembunuh berdarah dingin, aku kecil tetapi adikuasa. Kau tahu, aku bisa membuat kalian dihina jika membenci perbuatan-perbuatanku selama ini. Para anti-Semit. Para neo-Nazi. Dan, pintu-pintu dari negeri-negeri jajahanku di Eropa, Amerika dan Australia akan terkunci rapat untukmu.

Aku berambut keriting, berhidung mancung, dan berjanggut panjang seperti musuh-musuhku di Afghanistan. Bedanya, aku bukan teroris, sedangkan musuh-musuhku adalah teroris. Aku telah membunuh seribu orang dikalikan enampuluh tahun masa penjajahanku, tetapi aku tidak pernah dianggap sebagai penjajah seperti Inggris, Belanda, Portugis, dan Spanyol, apatah lagi dianggap sebagai teroris. Aku adalah pahlawan, kau tahu itu, aku telah merebut kembali Tanah Yang Dijanjikan oleh Musa di Gunung Sinai dan demi seribu tahun yang telah terlampaui dengan sia-sia, aku tak akan pantang menyerah.

Aku tahu Tuhan pernah murka ketika Musa menantang untuk melihat-Nya. Secercah api-Nya pun tak sanggup dilihat Musa. Bagaimana dengan seluruh api-Nya? Tetapi, kau tahu aku mewarisi sebuah bola api dari Matahari, dan kau tahu Matahari adalah sebuah bintang, dan kau tahu warna api yang paling panas dan cepat membakar adalah warna biru, dan kau tahu mata biru ayahku bisa memanah dengan tepat ke arah jantung manusia dan membakarnya. Aku bersyukur bola api itu jatuh ke tanganku setelah kurebut dengan susah payah dari seorang pria berkumis culun di Jerman.

Pada suatu malam menjelang kehancurannya, laki-laki itu digiring oleh seorang laki-laki bermata biru yang sangat tampan ke salah satu kamp penyiksaan, dan melanggar sumpahnya sendiri untuk tidak menggauli seorang wanita Yahudi. “Binatang betina nista dari spesies Semit!” Begitulah dia pernah berkata sebelum malam itu, tetapi tergoda oleh kecantikan ibuku, dia menelan air ludahnya sendiri, dan selama tidak kurang dari sebelas menit ia menggumuli ibuku senista hinaannya sendiri.

Sembilan bulan kemudian aku terlahir ke dunia dengan bola api yang tertanam di dada dan jiwaku. Karena itulah, jangan macam-macam denganku. Bahkan seorang presiden dari satu-satunya negeri digdaya di dunia ini pun tidak akan berani padaku. Kau boleh anti-Islam, tetapi kau tidak boleh anti-Semit. Tak ada gunanya anti-Hindu atau anti-Kristen, apalagi anti-Sikh dan anti-Buddha, kau pasti akan dicap atheis sejati. Tetapi kau perlu menjadi anti-Komunis untuk bersembunyi dibalik topeng-topeng keserakahanmu. Maka kau tidak boleh anti-Kapitalis apalagi anti-Globalisasi dan anti Neo-liberalis. Kalau tidak, maka persiapkanlah dirimu untuk sanksi-sanksi embargoku, dan bersedialah dikucilkan dari pergaulan dunia, dan menjadi katak dalam tempurung.

Kau tahu. Itulah aku, berdiri dengan tubuh kecilku, tetapi berjalan dan bekerja dengan kekuatanku yang sangat besar.

Selama enam puluh tahun aku telah membantai semua generasi muda musuhku, tetapi aku benar-benar heran, aku masih juga belum bisa menuntaskan semua misiku. Kau tahu, kebahagiaan terbesar bagiku adalah saat melihat para ibu dari musuh-musuhku meratapi anak-anak mereka menjadi mayat dengan lobang-lobang peluru dan luka-luka hantaman bomku! Kau tahu, kebahagiaanku menjadi sempurna ketika melihat para wanita meratapi suami, ayah dan kekasih mereka telah hancur berkeping-keping di antara reruntuhan gedung yang kurudal tanpa ampun. Kau tahu, kebahagiaanku menjadi semakin lengkap kalau melihat seluruh generasi muda musuhku habis. Ya, kau benar sekali, hobiku bukan membaca apalagi menonton acara sinetron murahan seperti kalian, tetapi hobiku adalah melakukan genosida secara terencana sekaligus membabi buta!

Aku benar-benar bangga pada diriku sendiri karena bola api di tanganku, maka semua orang di dunia takut kepadaku. Letika kuhancurkan kota-kota mereka, aku berdiri di atas mimbar mereka dan berseru, “Aku berasal dari bangsa pilihan Tuhan.  Hanya anak-anak bangsaku-lah yang pernah dikaruniai oleh begitu banyak nabi dan begitu banyak mukjizat. Jika kalian berani menantangku, Tuhan telah menganugrahi aku sepasang bola mata untuk menatap kalian dengan api yang membara. Aku bisa  membakar kalian, dan menciptakan neraka dunia!”

Aku ingin katakan padamu. Iskandar Agung dan Jengis Khan bukan apa-apa bagiku. Apalagi Adolf Hitler. Aku bisa lebih hebat daripada mereka, lebih dahsyat, lebih bertenaga, dan lebih kejam. Percayalah.

***

Aku adalah seorang perempuan yang tak terkenal dan tak perlu dikenal. Ketika masih kanak-kanak, aku paling suka membaca kisah 1001 malam dan diam-diam bercita-cita menjadi putri cantik bercadar yang tinggal terkurung di dalam sebuah menara emas. Tetapi, tidak lama kemudian, aku membaca kitab-kitab ayahku yang telah berdebu dan kutemukan nama-nama lelaki yang paling hebat sekaligus paling bejat di muka bumi ini.

Pada waktu aku berumur tujuhbelas tahun, aku memutuskan meninggalkan rumah dan berkumpul bersama orang-orang yang memiliki bola-bola kristal berwarna abu-abu. Aku kemudian berteman dengan mereka dan mereka bercerita padaku tentang betapa hebatnya bola-bola yang mereka miliki.

“Kau boleh membeli bola seperti ini di ujung langit, tetapi hanya sedikit perempuan yang sanggup memberikan semua kebahagiaannya demi membayar bola ini,” kata salah seorang dari mereka ketika kutanyakan bagaimana caranya  aku mendapatkan bola itu.

“Apakah itu adalah bola kristal untuk melihat masa depan, dan kalian adalah para ahli nujum yang selalu berusaha meramalkan kejadian pada masa yang akan datang?” tanyaku lagi.

“Sebaliknya, ini adalah bola kristal untuk melihat masa lalu, dan kami adalah para ahli yang selalu berusaha merangkaikan kembali semua kejadian pada masa lalu.”

“Untuk apa? Apakah ada gunanya? Waktu yang telah berlalu tak bisa diambil kembali.”

Dia menertawaiku. “Kau pikir begitu? Waktu tak pernah bisa kembali, tetapi apakah kaukira kau bisa melangkahinya untuk segera tiba pada masa depan? Demi Tuhan seru sekalian alam! Dalam bola ini aku telah melihat ada laki-laki keji dianggap sebagai pahlawan, dan ada bangsa yang telah menjajah dianggap sebagai bangsa yang hebat. Dalam bola ini aku telah melihat orang-orang Red-Indian dan Aborigin tak boleh dianggap sebagai pemilik asli benua tempat tinggal mereka, sebaliknya orang-orang Yahudi didukung dengan sepenuh hati untuk mengambil kembali tanah-tanah di Palestina yang telah seribu tahun mereka tinggalkan. Dalam bola ini aku telah melihat seorang ayah memiliki dua anak dari dua ibu yang berbeda dan seluruh keturunannya selalu berperang sepanjang hayat mereka dan perang mereka selalu menghancurleburkan seluruh kedamaian di Bumi. Dalam bola ini aku telah melihat semua kekejaman pada masa yang telah begitu lampau, tetapi manusia tak pernah bisa meraih masa depan mereka tanpa mengulangi semua kekejaman itu lagi.”

“Bagaimana aku sanggup menyaksikan semua penderitaan dan membiarkan bola kristal itu menghisap semua kebahagiaanku?”

“Jika kau tak sanggup memiliki dan melihat isi bola ini, kepekaanmu pada kehidupan mendatang, bagaikan sebilah pedang yang akan semakin tumpul dan semakin berkarat. Begitu  pedangmu tumpul dan karatan, kau tak akan pernah bisa menaklukkan waktu, dan seluruh kebahagiaan yang kaukira sempurna sebenarnya semu.”

Aku tercenung dan merasa heran. Aku semakin penasaran dan aku pun tak kuasa menahan hasratku untuk mendapatkan bola itu. Maka, aku pergi ke ujung langit, dan orang itu benar, aku telah memberikan semua kebahagiaan yang pernah kulihat untuk mendapatkan bola itu. Bola kristal itu dipenuhi pemandangan menyakitkan yang bisa melahap semua ingatan masa laluku yang indah.

Banyak lelaki, apalagi perempuan gagal mempertahankan bola yang telah mereka beli. Bahkan, ada seorang perempuan berumur tiga puluh tahun lebih tua daripadaku langsung melempar bola kristal yang hendak dibelinya ketika tiba-tiba bola itu menampilkan potret barisan jenazah bayi korban perang yang tersenyum dengan lobang-lobang peluru di dada mereka.

“Mengapa kau begitu bodoh?” sindirku.

Jawabnya, “Untuk apa aku melihat semua ini, sedangkan aku memiliki semua kebahagiaan di dunia sebagai ibu dan nenek dari anak-anak yang sehat?”

Ketika aku bertemu orang itu lagi, aku berkata kepadanya tentang semua yang telah kulihat. Darah. Luka. Airmata. Bahkan, ceceran air mani dari barat ke timur Bumi. Tanpa sedikit pun aku berpaling dan ketakutan seperti wanita tua tadi. Aku kira aku telah kehilangan rasa jijik dan rasa belas kasihku. Tetapi, aku masih juga menangis, marah, mengutuk, dan muntah-muntah.

“Apakah kau telah melihat bola api yang bergulir di dalamnya?” tanyanya.

Aku menggeleng.

“Kalau begitu kau belum melihat semuanya.”

“Tetapi, bagaimana caranya? Aku harus melihat semuanya.” Aku jadi gelisah.

Dia tertawa. “Di antara darah, luka, air mata dan semua air mani itu, kau akan melihat bola api yang bergulir di antara semuanya, dia seakan-akan berguling, seperti roda dia menggelinding, terus-menerus meluncur, tanpa pernah berhenti. Sejak Qabil menjadi pembunuh pertama di muka bumi, sejak itu kami percaya, seorang makhluk dari Matahari menjelma menjadi laki-laki tampan bermata biru dengan  sebuah bola api yang dia bawa dari Matahari, datang ke Bumi, beranak-pinak dan dia mewariskan bola api itu kepada anak cucunya.”

“Dan, kau tahu setiap kali Tuhan melemparkan beberapa tali kepada orang-orang yang akan tenggelam di laut, dia selalu datang dan membakar setiap utas tali sampai semua tali terbelah menjadi lebih dari tujuh puluh bagian?”

Aku mendesah. Aku mengamati bola kristalku yang tampak seperti berkabut debu. “Oh! Kau tahu bola api itu pernah membakar negeriku. Bola api itu pernah menguasai Afrika, bahkan sampai sekarang, dan juga pulau-pulau Melayu, negeriku yang malang! Bola api itu….Bola api itu” Aku tiba-tiba tergagap.

“Ada apa denganmu?” tanyanya heran.

Aku sedang melihat laki-laki pembawa bola api itu. Laki-laki itu tiba-tiba keluar dari bola kristalku. Aku dan temanku sama-sama menggigil ketakutan.

Ketika aku tahu siapa yang hendak dia dekati, aku menjerit. Aku menangis…., Temanku mendadak kaku, tiba-tiba kehilangan segala daya dan tenaga untuk membantuku Ketika aku tahu siapa yang hendak dia dekati, aku menjerit. Aku menangis….

“Demi Tuhan…aku tak ingin mendapatkan bola api itu! Tak akan kuizinkan laki-laki bermata biru yang tampan itu menanamkan benih api itu ke dalam rahimku!”

Temanku mendadak kaku, tiba-tiba kehilangan segala daya dan tenaga untuk membantuku. Sementara itu, lelaki bermata indah itu terus menatapku. Dia merayuku. Dia semakin menghampiriku. Aku bahkan bisa mencium bau nafasnya yang benar-benar berapi semakin menghangatkan wajahku. Jeritanku pun semakin keras. Tangisanku pun semakin kencang. Tetapi, tak ada kata-kata yang bisa kukeluarkan kecuali jeritan yang tak berarti. Hanya batinku yang berbisik lirih. Demi Tuhan, siapa yang bisa menolongku?!

(Selesai – Bojong Kulur, 27-1-2009)

Anak Perempuan Ketujuh

(Belum pernah terbit)

Surat undangan telah disebarkan sejak sebulan yang lalu. Kursi-kursi tamu telah dirapikan di aula gedung sejak tadi sore. Sebuah podium tua dari kayu telah dipersiapkan untuknya. Diletakkan tepat di tengah panggung. Di atasnya, telah dipasang dengan rapi, sebuah spanduk dengan warna-warna mencolok.

Kata-kata dalam spanduk itu. Pertemuan dan perjamuan hari itu. Semuanya adalah kado ulang tahun yang paling manis yang akan didapatkan oleh Sheba. 11 September 2006. Sheba akan dikukuhkan sebagai guru besar.

Malam ini, Sheba duduk sendirian, menghitung detik demi detik menjelang upacara penting itu. Di ruang keluarga. Di atas sebuah kursi goyang. Di depan perapian. Dia tinggal di kaki gunung dan kabut selalu datang tak mengenal waktu. Malam ini berkabut. Batsheba menyalakan api, mendengarkan lagu-lagu Enya dari pemutar MP3 di komputernya.  Sejak sebulan yang lalu, sebuah suara selalu mengganggunya pada malam hari. Dia berharap hanya mendengar Enya malam ini.

Di atas perapian itu, foto-foto tua berbingkai hitam berdiri berbaris seperti sederetan peristiwa di masa lampau. Dua orang suami, dan dua-duanya meninggal sia-sia di sampingnya. Seorang anak perempuan, yang sekarang sudah pergi dibawa suaminya ke luar negeri. Seorang cucu laki-laki, persis seperti menantunya, dan keduanya hanya sesaat sempat dikenalnya. Lalu, foto-foto yang lebih tua lagi umurnya. Enam orang saudara perempuan yang masih hidup semua, dan sudah menjanda semua. Seorang saudara laki-laki yang baru saja meninggal. Dan, sepasang orangtua yang telah belasan tahun lalu dimakamkan.

Sheba adalah anak perempuan ketujuh. Enam orang kakaknya perempuan. Nama lengkapnya, Bathsheba, berarti anak perempuan ketujuh. Dan, dia satu-satunya yang memiliki arti nama sesederhana itu. Nama Ibrani yang tidak pernah ia sukai. Orangtuanya,  masih berdarah Yahudi, meskipun mereka tidak lagi beragama Yahudi. Mereka mewarisi beberapa toko jam dan arloji mewah di beberapa kota besar dan karena itu setiap tahun sekali mereka sekeluarga bisa pergi naik haji.

Konon, puluhan tahun yang lalu dua orang laki-laki Yahudi dari Belanda, bersahabat dan bersama-sama memutuskan pergi ke Hindia Belanda. Mereka mendirikan sebuah toko jam di Surabaya. Mereka berdua menikah dengan perempuan setempat. Yang satu memiliki seorang anak laki-laki, sedangkan yang satu lagi memiliki seorang anak perempuan. Pada suatu saat mereka berdua memutuskan menjodohkan anak mereka. Ketika cucu mereka lahir, mereka berdua berebut memberikan nama pada cucu mereka.

Hannah yang anggun. Sarah sang putri. Anita yang simpatik. Renata yang dilahirkan kembali. Susi si sekuntum bunga bakung. Anya yang agung. Dan, Musa yang diselamatkan dari air. Sementara Sheba hanyalah anak perempuan ketujuh.

Sheba dan saudara-saudaranya sempat beberapa waktu mengenal kakek mereka itu. Mengenal sedikit pengetahuan tentang bahasa Ibrani dari kedua orang laki-laki itu. Mengetahui arti nama-nama mereka. Sewaktu masih anak-anak, saudara-saudaranya selalu mencemooh arti namanya yang sederhana itu.  Namun, pada suatu ketika, akhirnya Sheba berhasil membalas cemooh saudara-saudaranya.

“Aku sekarang ini memang cuma seorang anak perempuan ketujuh. Tetapi, suatu hari nanti Aku akan menjadi seorang putri yang agung dan anggun. Kelak aku juga akan diselamatkan dari air. Lalu, aku dilahirkan kembali seperti sekuntum bunga bakung.  Ingatlah kata-kataku ini!”

Sekarang, di depan perapian, memandangi lidah api yang membara, Sheba tertawa kecil mengingat kata-kata itu. Sebuah doa barangkali. Pada akhirnya malaikat mungkin mencatat kata-kata itu dan menyampaikan permintaan itu kepada Tuhan.

Di bawah kursi goyang tempat ia duduk, guntingan-guntingan artikel koran mengenai dirinya berserakan di atas lantai. Beberapa di antaranya memuji dirinya. Namun, jumlah artikel yang mengkritik dan mengecam dirinya jauh lebih banyak lagi akhir-akhir ini.

Batsheba masih menggoyang-goyangkan kursinya. The Memory of Trees  dari Enya menebarkan kegelisahan dalam pikirannya. Sebagai seorang sejarawan profesional, Sheba telah terdidik sepenuhnya untuk menguasai kemahiran kembali ke masa lalu, meskipun mesin waktu sampai saat ini belum pernah ada yang berhasil menciptakannya.

Wie est eigentlich gewessen ist. Rumus Ranke itulah yang selalu ia ajarkan pada mahasiswa-mahasiswanya untuk menguasai kemahiran itu. Memang, dia tidak menguasai bahasa Jerman. Mungkin hanya ungkapan Jerman itu saja yang ia tahu. Tetapi, ungkapan itu adalah ungkapan favorit mahasiswa-mahasiswa sejarah di kampus tempat ia mengajar.

“Nyonya telah menodai hukum itu.” Kata sebuah suara dari balik lidah api. Suara yang akhir-akhir ini sering mengganggu malam-malam perenungannya.

Sheba merinding ngeri. “Siapa di sana?”

“Nyonya tidak lagi menceritakan apa adanya.”  Kata suara itu lagi.

“Kumohon, siapa itu?”  Sheba memandangi sekeliling ruang keluarga.  The Memory Trees masih mengalun. Hanya suara itu yang terdengar. Untuk beberapa saat, suara dari balik lidah api tidak kedengaran lagi.

Sheba kembali memandangi foto-foto di atas perapian. Foto almarhum Raden Mas  Ontoseno yang sudah lama ia simpan, ia letakkan kembali di situ beberapa minggu yang lalu. Suami pertamanya. Perkawinan itu merupakan jawaban atas salah satu doanya. Ontoseno adalah seorang pangeran. Dan, karena itu Sheba menjadi seorang putri. Tidak berapa lama setelah perkawinan itu, seorang anak perempuan lahir dari benih yang ditanamkan Ontoseno pada rahimnya.

Mereka masih sangat muda ketika Nayakusuma lahir. Sheba baru menginjak umur 20 tahun, baru menghirup udara kampus biru. Ontoseno belum genap berumur 24 tahun, belum lama keluar dari sebuah institut kesenian. Setelah Naya lahir, Sheba kembali mengejar mimpi-mimpinya. Menjadi sarjana. Memiliki karir. Sedangkan Ontoseno, mengembara dari kota ke kota, memenuhi impiannya, sekaligus memenuhi kewajibannya sebagai seorang kepala keluarga. Menjadi sutradara. Menghasilkan uang.

Pada suatu ketika. Ketika Naya telah tumbuh menjadi gadis kecil yang pandai menulis dan membaca. Ketika Ontoseno semakin sering melanglangbuana dengan kamera-kameranya. Ketika Sheba telah menjadi wanita karir dengan gelar magister di belakang namanya. Ketika Sheba tiba-tiba menyadari cintanya pada Ontoseno telah memudar. Perasaan itu telah diam-diam dia berikan pada Tan Hok Liang.

Sheba sendiri tidak begitu yakin mengapa cintanya begitu mudah berubah. Hok Liang tidak semuda Ontoseno. Empat puluh tahun umur Hok Liang waktu itu. Dan, kolega sefakultasnya itu pun sudah dua kali menduda. Pertemuan demi pertemuan pada setiap senja telah mengakrabkan keduanya. Bersama rasa jemu dan kesepian yang mengikis perasaan cintanya pada Ontoseno, timbul sesuatu yang berbunga-bunga kembali di hatinya. Pertemuan demi pertemuan mereka itu telah  menanamkan kesadaran baru padanya. Hok Liang memiliki segala sesuatu dari seorang laki-laki yang dia impikan ketika masih kanak-kanak. Laki-laki seperti ayahnya!

Meski mewarisi beberapa toko jam dan arloji mewah, ayahnya bersikeras menentang keinginan orangtuanya. Ayahnya meraih gelar sarjana dalam waktu teramat singkat untuk ukuran saat itu, dan dengan segera pula menjadi dosen. Dosen pertama di sebuah universitas negeri yang baru dibuka oleh pemerintah. Ayahnya membangun sebuah perpustakaan, dan  selalu membiarkan dirinya tenggelam di antara buku-buku di perpustakaan itu. Semua orang yang mengenal ayahnya selalu mengatakan bahwa ayahnya adalah salah satu di antara pria Yahudi lainnya yang dianugrahi kecerdasan luar biasa oleh Tuhan.

“Mengapa Nyonya melakukan perbuatan serendah itu?” Tiba-tiba suara itu terdengar lagi. Sekarang dari balik kursi goyang. Enya masih menyanyi. Book of Days melantun, menusuk-nusuk perasaannya.

Sheba bangun dari kursinya. Kakinya melangkah beberapa sentimeter. Dia kembali memandangi seisi ruangan. Dia tidak melihat siapa pun. Bahkan tidak sesuatu yang mustahil seperti hantu atau binatang yang berbicara. Kecuali sesuatu yang mengganggu di bawah kakinya. Kakinya menginjak salah satu artikel yang berjudul “Dua Karya Plagiat Seorang Calon Professor”. Digunting dari sebuah koran nasional beroplah terbesar. Koran hari ini.

Dia tidak berani membayangkan jika ayahnya masih hidup. Dia juga tidak berani membayangkan jika Tan Hok Liang pun masih hidup. Lalu, mereka membaca artikel itu. Dia tidak berani membayangkan reaksi mereka!

Tan Hok Liang akhirnya menjadi suami keduanya. Pada suatu sore ketika Ontoseno bermain-main dengan api di lokasi syuting, sebuah ledakan kecil telah membakar segala rintangan bagi Sheba untuk bersanding di samping Hok Liang.  Hanya enam bulan ia mengenakan gaun berkabungnya. Dan, hanya beberapa tangisan sandiwara yang ia persembahkan untuk mengenang cintanya pada Ontoseno.

“Mengapa Nyonya begitu bodoh, tapi juga begitu kejam?” Suara itu muncul lagi.

Sheba tidak bersuara sama sekali. Dia merasa sangat ketakutan. Suara seorang perempuan. Suara itu mirip suaranya sendiri.

“Nyonya tidak bisa berkelit lagi. Nyonya telah melakukan banyak kezaliman. Kemarin Nyonya bebas. Tapi, besok? Bagaimana?” Suara itu terdengar begitu nyaring. Lebih nyaring daripada sebelumnya.

Sekarang, tiba-tiba saja dia mendengar suara beberapa orang perempuan dewasa menangis. Dan, dia ingat suara-suara siapa saja itu.

“Nyonya Tan, saya begitu mengharapkan kematian Anda. Anda telah membunuh anak laki-laki saya.” Kata sebuah suara yang lain.

“Nyonya Tan, saya begitu mengharapkan kehancuran Anda. Anda telah mencuri hasil karya saya.” Kata sebuah suara yang lain pula.

“Nyonya Tan, saya begitu mengharapkan penyakit dan penderitaan menggerogoti Anda. Anda telah merampas impian-impian saya.” Kata sebuah suara yang tidak sama juga.

Sheba menjatuhkan pantatnya di atas kursi goyang, mengepalkan tangannya, menghantam lengan kursi goyangnya.

“Hentikan! Hentikan!” raungnya.

Menjelang ulangtahun ke-17, Sheba nyaris tenggelam di sungai Brantas. Beberapa orang pria berusaha merampoknya di tengah jalan. Mereka mengincar jam tangan rolex di tangannya. Juga giwang dan cincin emasnya yang bertahta berlian 18 karat. Seorang perempuan yang sedang mandi di pinggir kali telah menyelamatkannya. Persis seperti ketika nabi Musa diselamatkan oleh istri Firaun yang sedang mandi di Sungai Nil.

Sejak peristiwa itu, Sheba tidak menyukai emas. Dia juga tidak pernah mau lagi berenang. Dia ingat bagaimana rasanya menghadapi maut. Menghadapi ajal.

Bahkan ketika dia melahirkan Naya. Ingatan akan peristiwa di kali itu kembali menghantui pikirannya. Gerbang kematian. Warna-warna yang kelam. Udara yang tak bisa dihirup. Dan, sepertinya suara apapun tercekat di tenggorokan.

Karena itu, Sheba selalu berusaha mendekatkan diri pada Tuhan. Seperti kedua orangtuanya, setiap tahun sekali Sheba pergi naik haji. Baik haji kecil maupun haji besar. Dia sudah tak bisa menghitung lagi berapa kali dia sudah pergi ke Tanah Suci.

“Nyonya jangan datang besok. Banyak orang akan menghancurkan Nyonya besok.” Kata suara itu lagi.

Sheba dan Hok Liang tidak pernah dikaruniai anak. Agaknya, sejak awal memang Hok Lianglah yang tidak mampu menanamkan benih unggul yang tahan lama di rahim Sheba. Tiga kali keguguran, persis seperti istri pertama dan istri kedua Hok Liang. Namun, keguguran sebanyak itu tidak menghancurkan hubungan keduanya. Tidak pula menghancurkan Sheba – seperti sebagian perempuan yang merasa tidak berguna ketika mengetahui dirinya tidak bisa mempersembahkan anak buat suaminya.

Keadaan itu justru membuat Sheba merasa beruntung. Dia memiliki banyak waktu untuk bisa duduk sejajar dengan Hok Liang di kampus mereka. Dia juga tidak perlu merasa was-was menanti saat-saat mencekam itu lagi – gerbang kematian itu.

Sheba meraih gelar doktor ketika Naya merayakan ulang tahun yang ke-16 tahun. Sementara itu, Hok Liang berada di atas puncak karirnya di fakultas, dengan gelar akademik tertinggi yang tidak siapapun dapat memperolehnya dengan mudah. Mereka memiliki hampir segala sesuatu yang diimpikan oleh manusia di atas muka bumi ini. Harta benda yang berlebihan, yang diperoleh dari saham-saham perusahaan keluarga yang diwarisi Hok Liang dan Sheba. Gelar-gelar intelektual, yang diperoleh berkat kerja keras mereka sendiri. Seorang anak perempuan, yang mewarisi bakat seni almarhum ayahnya. Hampir sempurna. Kecuali, tentu saja, anak dari benih Hok Liang sendiri.

Sheba telah menjadi perempuan yang agung. Ia dihormati oleh banyak orang. Kolega-koleganya. Tetangga-tetangganya. Terutama sekali, mahasiswa-mahasiswanya.

Dengan kemuliaan dan kehormatan itu, Sheba bisa memperoleh citra diri yang anggun. Pakaian-pakaian yang serasi dengan sepatu dan tas tangannya, hanya merupakan pelengkap dari keanggunan itu. Dan, juga pelengkap lainnya. Seorang supir yang membukakan pintu mobilnya, seraya menunduk dan membawakan kopernya. Lalu, Sheba keluar dari dalam mobil, berjalan dan naik tangga, dengan gaya melangkah yang diajarkan di sekolah-sekolah kepribadian.

Tetapi, dia tidak tahu. Atau mungkin dia sebenarnya tahu, tetapi dia tidak mempedulikannya. Semester demi semester berlalu. Mahasiswa demi mahasiwa masuk dan keluar. Mahasiswa-mahasiswa itu mengenakan topeng-topeng tebal ketika menghadapinya. Dari kejauhan melihat kedatangannya, mereka berlari masuk ke dalam kelas dan berdoa supaya hari itu Sheba memberikan senyuman yang manis. Tapi, Sheba nyaris tak pernah bermuka manis di depan mereka. Senyuman manis itu hanya untuk orang-orang penting di luar kelas sana, pikirnya selalu. Seharusnya, merekalah yang bermanis-manis di depannya. Mereka membutuhkan ilmu pengetahuan yang ada di kepala Sheba. Mereka juga membutuhkan nilai-nilai bagus yang ada dalam kekuasaan Sheba.

Setiap kali Sheba keluar dari kelas, dan sesuatu yang menggelegar-gelegar baru saja berakhir, mahasiswa-mahasiswa di bagian paling belakang akan berbisik-bisik diikuti suara terbahak-bahak pelan.

“Apakah dia tidak mengalami orgasme tadi malam?”

“Apakah dia datang bulan lagi hari ini?”

“Apakah suaminya sudah benar-benar impoten?”

Sekiranya Sheba mendengar hal-hal itu, wajahnya pasti akan merah padam. Dia pasti akan berkata, “Kalian mahasiswa-mahasiswa yang menjijikan!”

Dia tidak mungkin tidak datang besok. Kemuliaan dan kehormatan itu. Besok adalah hari yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Memperoleh apa yang pernah diraih ayahnya. Mendapatkan apa yang pernah dimiliki oleh Hok Liang. Dia akan menjadi guru besar. Dia telah bersumpah untuk melakukan apa saja untuk meraihnya. Sekarang, dia juga mesti melakukan segala cara untuk mempertahankannya. Tidak banyak perempuan yang bisa memiliki nasib seperti ini di negerinya.

Dia tiba-tiba teringat pada nasib salah seorang mahasiswinya di sebuah universitas swasta beberapa tahun lalu. Entah sudah berapa juta yang dihabiskan oleh orangtua mahasiswi itu untuk membayar semua uang kuliah. Pada akhirnya, setelah mahasiswi itu menjadi sarjana, mahasiswi itu menikah. Menikah karena kecelakaan, kata orang-orang. Suaminya menjadi anggota dewan di luar pulau dan lama kelamaan tidak pernah kembali lagi. Sekarang, demi membiayai anaknya, mahasiswi itu terpaksa menjadi seorang pengasuh anak di rumah seorang kaya. Namun, tidak bisa dianggap pekerjaan pengasuh anak sama di negeri ini seperti pengasuh anak di negara-negara maju. Pengasuh anak sama dengan babu. Harus juga mencuci pakaian anak majikannya. Membersihkan kamarnya dan segala kepunyaannya.

Sekarang, Sheba berusaha menghilangkan bayang-bayang tentang panti jompo, perpustakaan warisan ayahnya yang akan terlantar, dan keriput yang kini perlahan-lahan melenyapkan segala kecantikannya.

“Mereka akan menghancurkan Anda. Homo non potest icedire nisi humaniter, Nyonya….” Kata suara itu, menyebutkan sebuah ungkapan yang pernah ia baca bertahun-tahun yang lalu dari sebuah bahan bacaan untuk mata kuliah Filsafat Sejarah yang ia ajarkan. Ungkapan yang pernah dilontarkan Nicolas of Cusa. Manusia-manusia tidak bisa membuat sesuatu pun, melainkan penilaian-penilaian manusia.

Sekarang, dia ingat peristiwa demi peristiwa yang menyebabkan suara-suara lain muncul, suara-suara yang lebih mengganggunya daripada sebuah suara yang belakangan ini sering mengganggu malam-malamnya.

“Nyonya Tan, saya begitu mengharapkan kehancuran Anda. Anda telah mencuri hasil karya saya.” Kata salah satu suara itu.

Dia teringat pada wajah tampan mahasiswa itu. Pada suatu pagi yang dibasahi gerimis, pemuda itu dihujani kata-kata kasar Sheba.

“Kurang ajar, kamu! Keluar dari kelas saya, sekarang!”  bentak Sheba begitu melihat buku teks kuliah pemuda itu adalah buku foto kopi. Buku foto kopian itu ia lempar ke muka pemuda itu. Mata pemuda itu berkaca-kaca dan mukanya merah padam.

Berhari-hari kemudian pemuda itu memohon belas kasihan darinya, dengan menunduk-nunduk, menyampaikan ribuan ucapan maaf. Namun, Sheba tidak semudah membalikkan telapak tangan ketika akhirnya memaafkan pemuda itu. Di tingkat akhir, pemuda itu menyerahkan diri untuk ia bimbing untuk menempuh ujian akhir.

Sheba masih menginjak guntingan koran mengenai artikel terbaru tentang dirinya itu. Nama pemuda itu pun ada di sana. “……Dr. Bathsheba Tan diduga telah mencuri dan memodifikasi isi skripsi Emil Markus untuk bab 6 dan bab 7 dalam buku terbarunya….”

Emil Markus yang malang. Namun, lebih malang lagi Neha Gupta. Sheba masih ingat perempuan itu, ketika sebuah suara yang lain berkata:

“Nyonya Tan, saya begitu mengharapkan penyakit dan penderitaan menggerogoti Anda. Anda telah merampas impian-impian saya.”

Neha yang masih belia mengagumi dirinya, seperti ketika dulu ia pertama kali menyelami seluk beluk sejarah Eropa, ia pernah mengagumi Katherina Yang Agung dari Rusia.

Neha adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang pernah menjadi pembantunya dalam proyek-proyek yang diberikan kepadanya. Proyek-proyek dengan dana puluhan juta rupiah. Menulis sejarah kota ini. Menulis sejarah kabupaten itu. Menulis sejarah tokoh anu. Dan, sebagainya.

Neha bahkan pernah menjadi anak emasnya. Dia selalu mendapatkan kepercayaannya untuk mengetik buku-buku proyeknya. Merapikan perpustakaan warisan ayahnya. Mengirim karya-karyanya ke percetakan. Dan, masih banyak lagi. Karena itu, Neha selalu mendapat A untuk semua nilai mata kuliahnya.

Namun, pada suatu saat, Neha mulai mangkir dari pekerjaan yang ia berikan. Neha menghilang, entah ke mana. Beberapa minggu lamanya. Sheba tidak berhasil menghubunginya, bahkan tidak ke rumah keluarganya. Dia hanya mendengar desas-desus bahwa Neha mengantarkan abu neneknya untuk dimakamkan di Poona.

Ketika Neha akhirnya muncul kembali di kampus, tanpa terlebih dahulu menanyakan alasan-alasannya, Sheba memaki gadis itu.

“Perempuan sialan! Tahu tidak aku sudah rugi beberapa juta karena kamu menghilang?! Semuanya jadi terlambat dan kacau balau!”

“Maaf, Bu. Saya tidak bisa menghubungi Ibu. Saya sedang berada di India dan…”

“Ya, ya. Dasar kau, India bodoh! Pantas saja negara nenek moyangmu itu tidak maju-maju!” Sheba memotong kalimat Neha dengan cepat.

Mendengar kata-kata Sheba, air mata Neha tumpah, dan gadis itu keluar dari ruang kerjanya, tanpa mengucapkan apa pun kepadanya. Sejak hari itu, Neha tidak pernah muncul lagi di kampus biru. Mahasiswa-mahasiswa yang lain mengatakan kepadanya bahwa setelah abu neneknya dimakamkan di Poona, seperti tradisi yang lazim berlaku, Neha mesti memenuhi wasiat neneknya. Dia harus menikah dengan laki-laki pilihannya. Laki-laki dari kasta yang sama.. Tadinya, Sheba tidak percaya bahwa hal semacam itu masih ada di dunia yang modern ini. Lagipula, Neha bukan tipe gadis penurut. Sampai akhirnya, pada suatu hari, Sheba menerima sepucuk surat dari Neha. Surat yang agak basah, mungkin karena tetesan air mata Neha.

Ibu Sheba,

…Saya tadinya berharap menceritakan persoalan saya kepada Ibu. Saya telah bertunangan dengan seorang laki-laki, meski pun saya tidak mencintainya, bahkan baru saja mengenalnya. Lagipula saya tidak ingin menikah terlalu muda. Seperti yang pernah Ibu nasehatkan kepada saya beberapa waktu yang lalu. Sebaiknya saya tidak menikah terlalu muda, dan sebaiknya saya menikah dengan laki-laki yang saya cintai. 

Namun, sekarang saya telah memutuskan menikah dengan laki-laki yang telah dijodohkan untuk saya oleh mendiang nenek saya. Laki-laki bernama Prakash ini tinggal di Poona (kadang-kadang orang menyebutnya Pune), sebuah kota yang cukup besar, letaknya tidak jauh dari Bombay. Jadi, saya sekarang tinggal di sana bersama Prakash….

Neha Gupta


Beberapa bulan yang lalu dia mendengar berita terbaru tentang Neha dari seorang asisten dosen. Sejak melahirkan bayi pertamanya, Neha terpaksa dikirim ke sebuah rumah sakit jiwa di Bombay.

Akan tetapi, tidak ada yang lebih mengenaskan daripada Edwin. Suara perempuan yang telah melahirkan, menyusui dan membesarkan Edwin adalah suara yang paling menghantuinya saat ini.

“Nyonya Tan, saya begitu mengharapkan kematian Anda. Anda telah membunuh anak laki-laki saya.” Kata salah satu suara yang paling mencekam.

Ketika itu, di waktu pagi yang biasanya dia mengizinkan semua mahasiswa meneleponnya, dia sedang menatap tubuh rapuh Hok Liang. Dia mendengar suara grok-grok dari nafas Hok Liang. Mengingatkannya kembali pada detik-detik kematian Ontoseno di antara selang-selang dan suara mesin di ruang ICU. Betapa sejarah berulang. Di hatinya ketika itu, dia berharap Hok Liang juga segera pergi meninggalkannya. Tubuhnya memang berada di sisi Hok Liang. Namun, jiwanya melayang jauh ke sisi Iskandar. Seorang laki-laki yang sekarang jauh lebih berguna untuknya. Seorang laki-laki yang bisa melindungi kedudukannya.

Tiba-tiba, sebuah deringan telepon membuyarkan lamunan itu. Edwin meneleponnya pada waktu yang sesungguhnya merupakan waktu khusus ia menerima telepon dari mahasiswa-mahasiswanya. Tetapi, waktu khusus itu tidak ada pada hari itu.

“Kurang ajar benar ya kamu? Tidak tahu apa saya sedang menunggu suami saya yang sedang sakit?!” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Sheba segera menutup telepon genggamnya, sementara Edwin masih terbata-bata mengucapkan kata-kata maaf.

Beberapa hari kemudian, Edwin kembali menemuinya. Namun, Sheba telah dikenal sebagai perempuan yang tak pernah menjilat kembali ludahnya. Sheba sama sekali tidak bersedia menandatangani skripsi Edwin yang sudah harus mengikuti sidang dalam waktu dekat, atau kalau tidak dia terpaksa dikeluarkan dari universitas. Dia terancam DO.

Beberapa minggu kemudian. Pada suatu pagi yang sangat dingin. Lebih dingin dari pagi ketika dia menemukan denyut jantung Hok Liang telah berhenti. Sebuah koran lokal terbang ke halaman rumahnya seperti biasa. Di kolom paling bawah koran itu, ada sebuah berita yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

“Seorang mahasiswa sebuah PTN terkemuka di kota ini ditemukan tewas di kamar mandi kost-nya tadi malam. Edwin Suryadiningrat, 25, diduga nekad menggantung dirinya karena dinyatakan DO…”  

“Nyonya, lebih baik Anda mati sebelum menyaksikan kehancuran Anda sendiri. Segalanya akan hilang, Nyonya. Kemuliaan yang anda miliki selama ini. Kehormatan yang ada dalam genggaman Anda selama ini. Anak Anda sendiri akan begitu membenci Anda. Jika Anda mati sekarang, semua orang akan memaafkan Anda.”

Mendengar suara itu lagi, air mata Sheba yang sudah lama membeku semenjak kematian Hok Liang, meleleh terus-menerus tanpa bisa ia kendalikan. Telah tiga tahun dia menyimpan bongkahan es dalam kedua bola matanya. Dan, kini, bongkahan es itu mencair begitu cepat.

Dia tidak mungkin tidak menghadiri hari besar itu. Dia tidak mungkin melepaskan hari yang sudah sejak kanak-kanak ia impikan. Impian yang telah tertanam dalam benaknya semenjak mendengar semua orang memanggil ayahnya “Professor.”

Lagipula, surat undangan telah disebarkan sejak sebulan yang lalu. Kursi-kursi tamu telah dirapikan di aula gedung sejak tadi sore. Sebuah podium tua dari kayu telah dipersiapkan untuknya. Diletakkan tepat di tengah panggung. Di atasnya, telah dipasang dengan rapi, sebuah spanduk dengan warna-warna mencolok. Di hadapan podium itu, sebuah pintu jati besar akan menyambut kedatangan seluruh undangan. Begitu pintu itu dibuka lebar-lebar, yang tampak adalah kolam air mancur dan pohon-pohon cemara. Kolam dan pepohonan cemara itu pernah menjadi saksi bisu cinta terlarang antara dirinya dan Hok Liang, ketika cincin emas berukiran nama Ontoseno masih melingkar di jari manisnya.

Namun, dia juga mendengar desas-desus tentang pejabat-pejabat berwenang yang mungkin akan menunda acara itu, bahkan mungkin membatalkannya. Pada malam ini, hal itu mungkin sekali akan terjadi. Semuanya karena artikel dalam koran itu. Penulis artikel itu pasti telah mempersiapkan bukti-bukti penting.

Dia berharap Iskandar akan membantunya. Dia berharap, laki-laki yang memiliki kekuasaan itu dapat mengeluarkannya dari masalah itu. Dia sudah begitu lama memimpikan saat-saat dirinya diresmikan sebagai seorang guru besar. Hal itu akan menjadi kebanggaan barunya. Hok Liang telah meninggalkannya. Begitu juga Naya. Dia sudah mulai bosan dengan benda-benda mahal di seluruh tubuh dan rumahnya. Dan, dia lebih jemu lagi dengan gelar-gelar yang itu-itu saja menempel pada namanya

“Nyonya, saya telah menyiapkan sebuah akhir yang bahagia untuk semua orang. Di atas meja makan, saya telah menghidangkan segelas minuman. Jika Nyonya tidak ingin kehilangan semuanya. Jika Nyonya tidak ingin menyaksikan kehancuran diri sendiri. Sebaiknya, reguklah setiap tetes air dalam gelas itu.” Suara itu terdengar semakin dekat dan jelas di telinganya. Diiringi Evening Falls dari suara merdu Enya.

Tadi siang, hujan turun begitu deras. Padahal, rumput hijau di taman bunganya baru saja dipangkas rapi. Kolam ikan di antara bangku-bangku itu pun baru saja dibersihkan. Beberapa ekor ikan yang sedang berenang dapat terlihat begitu jelas karena air kolam yang begitu jernih.  Teratai-teratai yang mengapung di sana kelihatan begitu segar sesudah hujan. Begitu pula bunga-bunga mawar yang ditanam dan disusun membentuk insial nama-nama anggota keluarganya. Bunga-bunga mawar beraneka warna. Merah, biru, ungu, putih dan kuning. Tak ada bunga-bunga lain selain mawar, kecuali  daisy liar di antara rerumputan.

Malam ini pun, sisa-sisa hujan masih belum hilang. Pohon-pohon cemara yang berdiri tegak, masih basah kuyup, seperti payung berwarna hijau, berjejer di sepanjang pagar halaman rumah. Langit masih agak mendung. Beberapa ekor gagak bangkai berbulu hitam pekat bertengger di atas pagar kayu yang membatasi teras depan rumahnya dengan halaman depan. Dan, di antara sunyi senyap malam itu, kabut berarak-arak menyusuri setiap sudut cahaya dan udara.

Kabut itu sepertinya juga menyusup jauh ke dalam benak Sheba sekarang. Felix qui potuit rerum cognoscere causas. Virgil berkata begitu. Manusia belajar sejarah, tetapi manusia tak pernah belajar dari sejarah. Kuntowijoyo pernah mengatakannya. Never explain, never apologize. Seseorang pernah mengatakan itu pada Lord Curzon. Kalimat-kalimat itu berkecamuk dalam pikiran Sheba. Saling bergumul, menghantam setiap ujung syaraf dalam kepalanya. Dan, semua kalimat itu pernah ia ajarkan dalam kuliah-kuliah filsafat sejarahnya.

Sheba memutuskan berjalan ke dalam ruang makan. Di ruang makan itu. Di atas sebuah meja bundar. Sebuah mug keramik dengan grafir namanya telah tersaji manis dengan tatakannya, seperti yang dikatakan suara itu. Dia tidak ingat dia pernah meletakkan mug yang sudah penuh terisi air itu di atas meja.

Ketika ia telah mendekat, dan tangan kanannya bergerak mengambil gelas itu, tiba-tiba telepon berdering keras sekali. Sheba setengah berlari menuju gagang telepon.

“Sheba Sayang, apakah kau baik-baik saja?” tanya suara di seberang, setelah saling mengucapkan salam.

“Oh, Bang Is. Ada apa? Saya baik-baik saja.” Sheba terengah-engah dan tersendat-sendat mengucapkannya.

“Saya sudah baca artikel yang terbaru itu. Kau yakin akan hari esok?”

“Saya tidak tahu. Bagaimana menurutmu?” Air mata Sheba kembali berderai..

“Tabahkan hatimu, Sheba. Aku akan berusaha membantumu semampuku.” Suara di seberang berusaha menenangkannya.

“Demi Tuhan! Saya yakin….” Sheba merasa tiba-tiba sesuatu mencekat tenggorokannya. Ruang makan itu seakan-akan hampa udara. Sheba berusaha mengatur nafasnya. Air dalam gelas di tangannya, diteguknya sampai habis.

“Tiba-tiba saya tidak menginginkannya lagi!” Sheba melanjutkan kalimatnya.

“Kau takut Sheba? Apakah kau memang merasa bersalah?” Suara di seberang bernada ragu-ragu.

“Saya…saya pusing sekali….” Sheba memegang kepalanya. Gelas kesayangannya terlepas, pecah berkeping-keping di lantai. Dia merasa seribu satu kunang-kunang mendadak terbang mengelilingi kepalanya, lalu berebut hinggap di matanya.

“Ada apa? Apa yang jatuh, Sheba?!”

“Gelas kesayanganku. Kebahagiaanku. Felix qui potuit rerum cognoscere causas. Kebahagiaan adalah milik orang yang datang untuk mengetahui sebab-musabab dari segala sesuatu…” bisik Sheba tersendat-sendat, dalam cahaya remang-remang.

“Kata-kata Virgil, bukan?” Tanya suara di seberang. Tak ada suara dari Sheba. Kecuali, gedebuk pelan.

“Sheba…? Sheba…?!” Suara di seberang memanggil, tapi tak ada jawaban dari Sheba. Telepon terputus. Once You Had Gold dari Enya sayup-sayup terdengar. Nyala api di perapian padam, bersamaan dengan sesuatu yang menguap dalam kabut.

Pagi itu, 11 September 2006. Ketika orang-orang mengarak tubuh kaku Sheba dalam keranda berselimut hijau tua ke mesjid di depan rumahnya yang luas, tukang kebun Sheba memperhatikan sesuatu yang janggal di antara bunga-bunga mawar ungu kesayangan Sheba.  Sekuntum bunga bakung ungu. Kelopaknya yang mirip moncong terompet menari-nari kecil ditiup angin pegunungan. Sekuntum bunga bakung di antara mawar-mawar yang masih basah oleh embun. Sekuntum bunga bakung yang kering, namun berseri-seri. Sekuntum bunga bakung yang kemarin belum tumbuh.

Surat undangan telah disebarkan sejak sebulan yang lalu. Kursi-kursi tamu telah dirapikan di aula gedung sejak kemarin sore. Sebuah podium tua dari kayu telah dipersiapkan untuk Sheba. Diletakkan tepat di tengah panggung. Di atasnya, telah dipasang dengan rapi, sebuah spanduk dengan warna-warna mencolok. Di hadapan podium itu, sebuah pintu jati besar akan menyambut kedatangan seluruh undangan. Begitu pintu itu dibuka lebar-lebar, yang tampak adalah kolam air mancur dan pohon-pohon cemara. Di antara kolam dan barisan cemara itu, ada sebuah jalan beraspal. Dan, pagi itu, menjelang pembukaan acara itu, beberapa orang laki-laki berjalan beriringan menuju pintu yang telah terbuka. Masing-masing membawa serangkai bunga. Kata-kata yang tertera pada rangkaian-rangkaian bunga itu hampir sama semua. Dari kejauhan podium itu, kata-kata yang samar-samar tampak adalah “Turut Berdukacita Atas Wafatnya Prof. Dr….”

TAMAT

Kerinduan Jenell

(Terbit di majalah Noor beberapa tahun lalu)

Musim semi baru saja berakhir ketika Jenell kembali ke Ilmenau. Angin musim gugur membawa kakinya melangkah kembali ke kota kelahirannya tersebut. Namun, di kota itu ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi seperti sepuluh tahun lalu. Pada saat itu, kedua orangtuanya dan adik satu-satunya masih hidup. Lima tahun yang lalu, orangtuanya berturut-turut meninggal dunia hanya terpaut jarak beberapa bulan, sedangkan kakaknya baru meninggal dunia tahun lalu. Kini ia menjadi perempuan asing di tanah kelahirannya sendiri karena cintanya pada seorang pria. Cinta yang telah membawanya beribu-ribu mil jauhnya dari Ilmenau dan memberikannya kehidupan yang merupakan impian setiap perempuan, sebuah keluarga yang bahagia dan dilimpahi kekayaan, meski kebahagiaan itu ternyata tak berlangsung abadi.

Pria itu kini telah mencampakkannya. Tatkala ia memandang wajahnya sendiri di depan cermin, ia sadar dirinya bukanlah Jenell yang dulu. Telah memutih sebagian kecil rambutnya dan telah pula berkerut sebagian dari wajahnya. Telah 25 tahun berlalu sejak mereka pertama kali bertemu. Pada waktu itu, ia baru berumur 25 tahun. Sesungguhnya pertemuan pertama itu terjadi ketika ia masih mengandung, dan masih pula berkabung atas kematian suami pertamanya. Tidak terbersit sedikit pun perasaan tertarik kepada laki-laki asing itu ketika pertama kali bertemu.
Ia ingat, pada saat itu musim gugur juga baru terbit seperti sekarang ini. Namun, udara dingin tidak menyurutkan keinginannya berjalan-jalan di taman kampus. Perutnya telah membesar dan beberapa minggu lagi ia akan melahirkan. Seorang laki-laki berwajah Asia yang sedang berdiri mengagumi patung sastrawan Goethe tiba-tiba menghampirinya. Laki-laki itu berbicara dalam bahasa Jerman yang kurang fasih, meminta tolong memotret dirinya di depan patung sastrawan terkemuka itu. Setelah itu, laki-laki tersebut mengucapkan terimakasih dengan ramah, kemudian berlalu dari sana.

Beberapa hari kemudian, mereka bertemu di sebuah restoran kecil, dan laki-laki tersebut rupanya masih mengingat dengan baik wajahnya. Ketika itu, Jenell sedang duduk sendirian di salah satu sudut restoran dan laki-laki itu dengan sopan mengajaknya bergabung dengan sekelompok orang yang sedang berpesta bersamanya.

“Nama saya Santoso Mangunsudi,” kata laki-laki itu memperkenalkan diri.
“Nama saya Jenell Kaiser,” balas Jenell.
Dalam pertemuan kedua itu, Jenell baru mengetahui bahwa Santoso adalah seorang mahasiswa dari Indonesia yang baru tiba di Ilmenau. Umurnya baru 20 tahun, tapi wajahnya dan penampilannya kelihatan sangat dewasa. Sejak saat itu, mereka berdua sering bertemu karena Jenell juga sedang melanjutkan kuliahnya. Benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka ketika beberapa minggu kemudian Jenell melahirkan. Santosolah yang melarikan Jenell ke rumah sakit ketika tiba-tiba air ketuban Jenell pecah sewaktu berada di perpustakaan kampus. Mereka pun akhirnya menjadi sepasang kekasih sehingga akhirnya empat tahun kemudian, ketika Santoso telah merampungkan studinya, Santoso melamarnya. Di depan patung Goethe, di tempat mereka pertama kali bertemu, Jenell menerima tanda lamaran berupa sebentuk cincin emas dengan mata berbinar-binar dan hati berdebar-debar.

Meskipun Santoso memiliki begitu banyak perbedaan, bahkan beberapa tahun lebih muda daripadanya, Jenell sama sekali tidak keberatan untuk menjadi istrinya. Bahkan meskipun ia harus meninggalkan Jerman dan menjadi warganegara Indonesia, sebuah negeri asing, yang dulu nyaris tak pernah didengarnya. Ia pun dengan rela hati mengubah keyakinannya untuk memeluk agama Islam sehingga ia mendapat nama baru, Fatima. Lagipula, Santoso juga sangat mencintai putranya, Herschel, seperti putranya sendiri.

Selama sepuluh tahun pertama perkawinan mereka, semuanya kelihatan begitu bahagia dan menyenangkan. Meski Santoso berasal dari kebudayaan yang amat berbeda dari kebudayaan asalnya, tetapi Santoso sangat menghargai tradisi dan kebudayaannya. Santoso menikmati masakan Jerman yang kadang-kala dibuat untuk mengobati kerinduannya pada tanah tumpah darahnya. Di rumah, mereka juga sehari-hari berbicara dalam bahasa Jerman. Santoso pun memberikan kebebasan berkarir kepadanya, meski Santoso sesungguhnya telah memberikan materi yang berlimpah kepadanya. Perasaan cinta Santoso pun tak pernah berubah kepada putranya. Setiap keinginan putranya tersebut selalu berusaha dipenuhi oleh Santoso.

Namun, keadaan berangsur-angsur berubah ketika sepuluh tahun lamanya Jenell belum juga memberikan keturunan kepada Santoso karena beberapa kali keguguran. Karena usianya yang sudah melewati kepala tiga dan kondisi fisiknya yang lemah, akhirnya Jenell tidak lagi mungkin memberikan anak kepada Santoso. Setelah sepuluh tahun berlalu, Santoso mulai mengabaikannya. Meskipun masih banyak orang yang mengatakan bahwa dirinya tetap cantik, tetapi Jenell sadar dia sudah tidak muda lagi, dan tidak semenarik 25 tahun lalu. Apalagi ia juga telah gagal beberapa kali dalam memberikan keturunan untuk Santoso. Maka, semakin lengkap sudah alasan bagi Santoso untuk mencari pengganti bagi dirinya.

Sejak lima belas tahun terakhir pernikahannya, Jenell memendam kekecewaannya seorang diri karena mendengar desas-desus perbuatan suaminya yang sering tidur bersama perempuan penghibur. Namun, ia begitu mencintai Santoso dan tidak mau mempercayai desas-desus itu. Kesabarannya mulai goyah ketika pada akhirnya Santoso berterus-terang kepadanya bahwa ia telah menikah lagi. Jenell tidak sanggup menerima kenyataan tersebut. Demikian pula dengan Herschel. Meski telah tumbuh menjadi pria dewasa, namun Herschel ternyata rapuh. Beberapa bulan lalu, seorang petugas hotel di Bali menemukan Herschel tidak sadarkan diri karena overdosis. Tidak lama sesudah mendengar bahwa orangtuanya akan berpisah, Herschel mulai sering mabuk. Malam itu, ia mabuk sambil menggunakan shabu-shabu. Beberapa hari lamanya Herschel berada dalam keadaan kritis di rumah sakit, sampai akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Semua kejadian tersebut membuatnya sangat terpukul. Maka, ia pun memutuskan untuk kembali ke Ilmenau. Meski demikian, Santoso tetap bersikeras tidak mau menceraikannya dan masih juga mengumbar kata-kata cinta kepadanya. “Kalau kau ingin berpisah denganku, aku akan membiarkanmu pergi. Tetapi, aku tidak akan pernah menceraikanmu. Aku masih mencintaimu, meski aku juga mencintai wanita lain,” kata Santoso kepadanya.
“Seorang laki-laki dibenarkan beristri lebih dari satu, demikianlah ajaran Islam,” ujar Santoso lagi. “Kau telah mengetahui hal itu, dan kau pernah berkata menerima hal itu, karena kau seorang muslimah.”
Jenell memandangi suaminya keheranan. “Seorang muslim? Islam? Pernahkah kau sungguh-sungguh mengajariku tentang Islam, dan sungguh-sungguh menjadi seorang muslim? Aku tidak pernah melihatmu sembahyang dan mengaji. Di depan saudara-saudaramu kau bicara seolah-olah tahu ajaran Islam, tetapi nyatanya sholat Jumat pun kau tidak pernah. Apakah kau tahu bahwa selama ini aku belajar Islam bukan darimu dan seharusnya kau merasa bersyukur karena setidaknya aku berusaha mempelajari agama yang kuyakini.”

Santoso hanya terdiam dengan muka merah karena marah dan tersinggung atas kata-katanya. Sejak saat itu mereka berdua tidak lagi saling bicara sampai akhirnya Jenell kembali ke Ilmenau, kota kecil tempat ia dilahirkan dan mendiami rumah warisan orangtuanya yang tidak lagi ditempati sejak lima tahun lalu.
Hari masih pagi ketika Jenell keluar dari rumahnya, menuju stasiun kereta. Hari itu hari Sabtu. Jenell telah berjanji menemui dua orang keponakannya yang tinggal di Frankfurt. Adiknya Imre Klaus, meninggalkan seorang istri dan dua orang anak perempuan yang masih kanak-kanak. Hari Ahad besok mereka bertiga akan merantau ke Amerika. Jenell akan mengantar keberangkatan mereka sampai ke bandara dengan perasaan berat hati karena mereka adalah satu-satunya keluarga terdekatnya yang tersisa dari Jerman.

Sesampainya di stasiun tujuan, Jenell berjalan kaki menuju apartemen mereka. Di salah satu sudut jalan, ia melihat seorang wanita muda berkerudung merah berdiri kebingungan sambil sesekali menengok secarik peta yang digenggamnya. Wanita itu mengingatkannya pada seseorang. Perempuan muda berkerudung, berwajah Melayu dan berbusana muslimah khas Indonesia. Tanpa berpikir panjang lagi, Jenell memutuskan untuk menghampirinya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Jenell dalam bahasa Indonesia yang fasih. Wanita itu terkejut mendengarnya.
“Subhannallah! Di mana anda belajar bahasa Indonesia selancar itu?” Wanita itu balik bertanya keheranan dan takjub.
“Saya…” Jenell terhenti. Ia hampir saja mengatakan bahwa dirinya adalah istri seorang pria Indonesia. “Saya cukup lama berada di Jakarta. Apakah anda ada masalah?”
Wanita itu tersenyum. “Benar. Saya diberitahu terdapat masjid tidak jauh dari sini. Tetapi sedari tadi saya mengelilingi daerah sekitar sini, saya tetap tidak berhasil menemukannya. Apakah anda bisa membantu saya?”
Jenell tersenyum ramah. “Tentu saja.” Bagaimana mungkin ia lupa. Masjid itu merupakan bangunan utama Frankfurt Islamic Centre, tempat pernikahannya dengan Santoso 25 tahun lalu. Letaknya tidak jauh dari apartemen saudara iparnya, karena di sekitarnya terdapat sejumlah penduduk asal Turki dan Asia muslim yang sudah sejak lama berdiam di kota ini.

“Seingat saya, masjid itu terletak di belakang gedung kuning itu. Saya masih ingat tempatnya, tetapi sudah 25 tahun, tentu banyak perubahan. Gedung kuning itu adalah apartemen tempat tinggal saudara saya. Sebab, saya ingat di belakang apartemen itu terdapat sejumlah apartemen yang dihuni oleh orang-orang muslim Turki. Saya rasa lebih baik saya mengantar anda sendiri. Saya khuatir anda tersesat lagi.”
“Wah, saya merepotkan Anda. Bagaimana ya…” kata wanita itu dengan wajah merah karena tidak enak hati .
“Sama sekali tidak merepotkan! Saya sangat tahu tempatnya. Saya pernah ke sana,” jawab Jenell seraya tersenyum ke arah wanita itu.

“Anda…Anda sedang belajar tentang Islam?” tanya wanita itu ragu-ragu.
Pertanyaan tersebut seperti sebuah tamparan bagi Jenell. “Bukan… Saya pernah menjadi seorang muslimah…” jawab Jenell, sempat hendak menceritakan peristiwa pernikahannya di masjid itu.
“Sekarang tidak lagi?” tanya wanita itu semakin bingung
“Entahlah,” jawab Jenell singkat.
Wanita itu semakin bingung. Tetapi keduanya terus berjalan ke arah apartemen Jenell. “Maafkan saya, Nyonya.” Wanita itu merasa tidak enak hati pada Jenell yang mendadak diam.
Jenell tersenyum padanya. “Tidak mengapa. Hanya saja saya rasa saya tak bisa menjelaskannya sekarang. Tapi, saya tetap percaya bahwa Tuhan itu ada.”

Wanita itu menarik nafas lega. “Kalau begitu, apakah kita bisa berkenalan? Nama saya Elika Tahir. Ini kartu nama saya. Barangkali anda sewaktu-waktu kembali ke Indonesia, anda boleh kapan saja mampir ke rumah saya di Bandung.” Wanita itu mengeluarkan sekeping kartu dari dompetnya, lalu memberikannya pada Jenell.

Jenell ragu-ragu hendak mengeluarkan kartu nama lamanya sebab dalam kartu tersebut ia masih dicantumkan dengan nama Jenell Santoso. “Oh, ya..nama saya Jenell Klaus. Maaf, kartu nama saya habis. Tapi anda boleh mencatat alamat dan nomer telepon saya nanti. Sebenarnya saya tinggal di Ilmenau.”

“Ilmenau? Sepertinya saya harus mampir ke kota itu kapan-kapan ya?”

Azan Zuhur baru saja berkumandang di dalam mesjid ketika akhirnya Jenell dan Elika tiba di masjid satu-satunya yang ada di kota Ilmenau itu. “Terimakasih, Nyonya Klaus. Saya sudah mencatat alamat dan nomer telepon anda. Saya juga tahu di mana apartemen anda. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi ya,” ujar Elika seraya tersenyum ramah.
“Sama-sama. Jangan sungkan-sungkan main ke rumah saya di Ilmenau, lho.”

Keduanya saling tersenyum dan mengucapkan salam perpisahan di pintu gerbang masjid. Namun, tatkala Elika telah memasuki masjid, Jenell membalikkan tubuhnya, kembali berjalan ke pintu gerbang masjid tersebut. Masjid itu telah banyak berubah. Dulu bangunannya sangat kecil dan tidak sebagus sekarang. Sayup-sayup terdengar suara takbir dan orang mengaji, suara-suara yang dulu begitu akrab di telinganya. Beberapa orang tampak bergegas memasuki masjid, sementara anak-anak mengikuti orangtua mereka berdasarkan jenis kelamin masing-masing. Saat melihat pemandangan itu, ia merasakan sebuah kedamaian dan kehangatan yang dulu pernah dirasakannya, yang tiba-tiba saja direnggut darinya ketika ia memalingkan diri dari sumber kedamaian itu. Di gerbang itu, Jenell melepaskan kembali benaknya ke masa-masa yang telah dilaluinya bersama Santoso.
Ketika menikah dengan Santoso, pada hari itu pula Jenell mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan seorang ustadz dan para jemaah masjid di Frankfurt Islamic Centre. Jumlah mereka hanya beberapa belas orang saja, di antara mereka ada saudara sepupu Santoso, dan yang lainnya adalah jemaah muslim asal Turki. Beberapa jam kemudian mereka diijabkabul dan resmi menjadi sepasang suami istri. Lalu, beberapa bulan kemudian Santoso membawanya ke Indonesia.

Kota pertama yang dikunjungi mereka adalah Surabaya. Di kota tersebut kedua orangtua Santoso tinggal. Tidak seperti dugaan Jenell, kedua orang mertuanya menyambutnya dengan hangat. Kehangatan tersebut membuat Jenell merasa nyaman berada di sebuah negeri yang begitu jauh dari negeri asalnya. Seluruh kakak dan adik Santoso pun begitu mudah akrab dengannya. Karena semua sambutan dan penerimaan yang amat hangat itu, Jenell ingin segera menyesuaikan diri dengan segala sesuatu yang biasa dipakai, dimakan dan dikerjakan oleh mereka. Jenell pun tidak lagi menolak makan ikan pindang pedas, petai, dan makan dengan tangan. Ia juga belajar memasak makanan-makanan Indonesia seperti sayur asem, lodeh dan gulai. Bahasa Indonesianya pun semakin lancar, meskipun ia sama sekali tidak menguasai bahasa Jawa yang kerap digunakan oleh suami dan saudara-saudara iparnya.

Setelah beberapa minggu di Surabaya, Santoso membawa ia dan anaknya tinggal di Jakarta. Santoso sangat memerhatikan dan menyayangi Herschel meski bukan darah dagingnya sendiri. Karena itulah Jenell tidak keberatan ketika akhirnya Herschel memakai nama Santoso di belakang namanya, melepaskan nama mendiang ayah kandungnya, Leo Kaiser. Meski meminta dikirim ke sekolah internasional setelah lulus sekolah dasar, Herschel tetap tumbuh menjadi pemuda yang fasih berbahasa Indonesia dan berbudaya Jawa seperti Santoso.

Segalanya mulai berakhir sejak Herschel mulai sering bertengkar dengan kedua orangtuanya. Dulu Jenell mengira semua itu terjadi karena anaknya sedang memasuki masa remaja. Herschel lalu bersikeras ingin melanjutkan kuliah di Amerika. Meskipun keberatan, tetapi Santoso tetap membiayai kuliahnya, sampai Herschel lulus beberapa tahun lalu. Kemudian, anak semata wayangnya itu kembali ke Indonesia dan bekerja di Bali. Ketika Jenell mengunjunginya tahun lalu, ia baru tahu alasan sebenarnya Herschel meninggalkan mereka.

“Ibu, apakah Ibu tidak tahu bahwa Ayah sudah lama mengkhianati Ibu? Aku melihatnya sendiri, Bu. Selama beberapa hari aku mengintainya dan ternyata memang benar Ayah sungguh-sungguh sedang berselingkuh dengan seorang wanita teman sekerjanya. Jadi, aku tidak heran jika hari ini Ibu tiba-tiba muncul di hadapanku dan mengatakan bahwa Ayah telah kawin lagi!”
“Tapi mengapa kau rahasiakan hal itu dari Ibu? Kenapa?!”

Herschel menunduk sedih. “Aku masih mencintai Ayah, Bu. Seperti juga Ibu masih mencintai Ayah. Bagiku, ia tetap ayahku. Walaupun ia bukan ayah kandungku, tetapi selama ini Ayahlah yang telah membesarkanku, memberikan aku kasih sayang seorang ayah yang tidak kudapat dari ayah kandungku – yang tak akan pernah kukenal; memberikan kesempatan padaku untuk merasakan sebuah keluarga dan sepasang orangtua yang lengkap. Betapapun buruknya Ayah, ia tetap memiliki andil dan jasa besar dalam hidupku, karena ia adalah satu-satunya ayah yang kukenal. Jadi, waktu itu aku memutuskan lebih baik pergi dan tak melihat lagi sambil terus berharap Ayah segera menyadari kesalahannya, kembali pada Ibu dan mungkin ia tidak akan melakukan perbuatannya lagi. Tapi…rupanya aku terlalu berharap… Aku kembali ke negeri ini hanya demi Ibu…” Jenell hanya meneteskan airmata setiap kali mengenang Herschel.

Beberapa hari telah berlalu sejak keponakan-keponakannya terbang ke Amerika. Senja di langit Ilmenau telah terbit. Jenell baru saja selesai memasak dan membuat teh untuk dirinya sendiri. Beberapa hari ini ia merasa sangat kesepian. Teman-teman semasa mudanya sekarang sudah menyebar ke seluruh Jerman, sementara sebagian kecil yang masih mendiami Ilmenau banyak yang telah meninggal dunia. Saudaranya yang tersisa, yaitu ipar dan dua orang keponakannya baru saja merantau ke Amerika. Malangnya, ia pun tak pernah akrab dengan sepupu-sepupunya yang tinggal di Ilmenau. Sungguh berbeda dengan keakrabannya dengan adik-adik Santoso. Di kota kecil ini, tak ada yang bisa ia kunjungi. Juga tak ada yang bisa ditelponnya. Jauh berbeda ketika ia dulu masih berada di Jakarta. Ketika almarhumah Dini, kakak sulung Santoso masih hidup, mereka sering menghabiskan waktu bersama di rumahnya, duduk minum teh, seraya menonton opera sabun favorit mereka. Ketika masalahnya dengan Santoso mulai terkuak dalam keluarga Santoso, adik iparnya Irsa selalu ada di sisinya untuk menampung semua keluh-kesahnya. Bahkan, seluruh adik perempuan Santoso pun ikut membela dirinya, menyesalkan tindakan Santoso yang mereka anggap sewenang-wenang itu.

Jenell hanya mencoba melupakan masa lalunya bersama Santoso. Tetapi, kesepian yang menyelimuti jiwanya membuatnya gelisah. Ia merasa begitu asing di kota kelahirannya sendiri. Ia merindukan keadaan rumahnya di Jakarta, rumah yang telah ditempatinya sejak pertama kali tiba di sana. Suara azan dari masjid, bunyi kentungan, bel para penjaja makanan dan teriakan para penjual jasa seperti tukang sol sepatu. Tak ada sapaan ramah para tetangga, orang asing tersenyum padanya di mal, dan juga seorang pembantu yang selalu menyiapkan semua keperluan untuknya. Jenell merasa kehilangan yang begitu dalam. Di rumah tua peninggalan orangtuanya itu, ia hanya ditemani foto-foto lama keluarganya terpampang di sudut-sudut dinding.

Di tepi jendela, menghadap langit senja, Jenell merenungi nasibnya. Ia tidak ingin kesepian seperti ini, sendirian di hari tua, berakhir di panti jompo. Diambilnya sepucuk surat yang dua hari lalu ia terima. Ia kembali membaca isi surat tersebut. Pikirannya pun bercampur aduk mengingat peristiwa beberapa hari lalu sewaktu bertemu Elika Tahir dan menyaksikan orang-orang berlomba menjalankan sembahyang. Sambil menyeka air matanya yang tiba-tiba mengalir deras, diraihnya sebatang pena di ujung meja. Kemudian, ia mulai menulis.

Adinda Irsa yang baik,


Bagaimana kabar Irsa sekeluarga? Mudah-mudahan kalian semua baik-baik saja. Aku sendiri terus-terang tidak dapat mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Ilmenau kini sangat sepi dan asing bagiku. Pada saat aku menulis surat ini senja mulai berarak pulang, mengantarkan malam. Dan aku merasa sungguh-sungguh kesepian. Sekarang, tiba-tiba aku merasakan kerinduan yang amat dalam kepada kalian. Aku merindukanmu, anak-anakmu, almarhum Herschel dan tentu saja Santoso. Namun, lebih dari itu, aku merindukan Indonesia, merindukan suasana Islami di sana yang tiba-tiba membuatku merasa menyesali keputusanku.


Di kota Ilmenau ini aku sudah tak punya siapa-siapa lagi yang benar-benar aku kenal. Hanya seorang pekerja sebuah toko kecil warisan orangtuaku dan kehidupan sebuah kota kecil yang tak seramah di negara kita. Barangkali kemarin dulu aku terlalu terburu-buru hendak meninggalkan Jakarta karena urusan perceraian kami tak kunjung selesai. Aku tidak menyadari bahwa selama 25 tahun aku telah membangun sebuah kehidupan di Indonesia, dan telah menjadi bagian dari keluargamu. Aku ingat, setiap hari lebaran keluarga pertama yang kaukunjungi adalah kami, meskipun kau tahu rumahtanggaku dengan Santoso sudah lama retak…


Bukankah sebentar lagi bulan puasa? Ssiang tadi, untuk pertamakalinya aku mampir di mushola satu-satunya Ilmenau yang kabarnya baru berdiri setahun lalu. Di sana aku merasa ucapanmu dulu mungkin ada benarnya.. Di sana aku pun melihat bahwa tidak sedikit muslim yang sebangsa denganku beribadah dengan tekun. Aku merasa ingin pula mempelajari agamaku sebagaimana yang mereka lakukan.Tahukah kau seorang Goethe saja banyak terinspirasi oleh Nabi Muhammad, sementara aku selama ini tidak sungguh-sungguh mau mempelajari agamaku sendiri. Aku menyesal hanya terpaku pada Santoso…
Aku berjanji akan pulang. Akupun ingin sekali mengunjungi makam Herschel dan menceritakan banyak hal kepadanya mengenai kota kelahirannya sekarang. Namun, seindah apapun Ilmenau, bersama kalian pada bulan puasa dan lebaran nanti tentu jauh lebih menyenangkan!
Kurasa suratku kali ini cukup sekian. Bila nanti aku sudah mendapat kepastian kapan aku kembali ke Jakarta, aku pasti akan meneleponmu.

Salam Sayang dan Kangen,
Jenell Fatima.


Dilipatnya kertas itu dan dimasukkannya ke dalam amplop. Keesokan paginya Jenell mengirimkan surat itu ke Jakarta. Dan ia membayangkan surat balasannya sepanjang perjalanan ke masjid. “Mbak Jen, pulanglah! Kami sangat merindukanmu,” seru Irsa, terdengar jelas di Ilmenau, di telinganya…

*****

(untuk dinda yang baru dari ilmenau dan untuk bude mitsu)

Sya’ban

Bulan para arwah. Aku tidak ingat pernah mendengar hal itu di mana. Yang pasti pertama kali kudengar enam tahun lalu. Mungkin di sebuah majelis taklim. Mungkin di sebuah pengajian. Atau, mungkin juga di siaran radio. Yang masih jelas teringat adalah suara seorang ustadz yang mengatakan bulan Sya’ban adalah bulan para arwah. Banyak orang meninggal dunia pada bulan Sya’ban. Dan, doa-doa untuk para arwah di alam kubur sebaiknya dikirim pada bulan Sya’ban juga.

Setiap kali bulan Sya’ban menjelang, suamiku sibuk mempersiapkan tiket pesawat ke Solo untuk nyadran. Setiap kali itu pula aku selalu ingat kata-kata sang ustadz tentang bulan para arwah. Dan, setiap kali itu juga aku  akan teringat pada beberapa kota di luar negeri yang pernah kusinggahi sepanjang hidupku. Ayahku adalah seorang diplomat. Karena itu, aku hidup dari benua ke benua. Hanya sebentar sempat kurasakan masa kanak-kanak di tanah air sendiri.

Meskipun suamiku bekerja di sebuah perusahaan penerbangan swasta, tetapi dia selalu mempersiapkan jauh-jauh hari tiket pesawat ke Solo untuk nyadran. Naik pesawat milik perusahaannya adalah satu-satunya cara gratis dan cepat untuk sampai di Klaten. Meskipun Mas Pras bilang desanya lebih dekat dengan Jogja daripada Solo, tetapi pesawat perusahaannya  belum mendapat izin mendarat di Jogjakarta,

Ketika pertama kali aku diajak Mas Pras mengunjungi desanya di tepi Prambanan untuk mengikuti upacara nyadran, yang terbayang olehku di dalam pesawat adalah upacara tahlil. Di sana, kubayangkan, orang-orang desa akan berkumpul di masjid untuk membacakan yasin, lalu mengirimkan doa untuk orangtua dan sanak saudara mereka yang telah berada di alam kubur.

“Bukan…Bukan seperti itu, Dik.” Mas Pras mentertawakan aku ketika aku mengatakan bayanganku itu di dalam pesawat.

Aku bukan hanya seorang perempuan yang dibesarkan di kota-kota besar dunia. Tetapi, ayah dan ibuku adalah orang-orang didikan Muhammadiyah sejak masih sekolah dasar. Bertahun-tahun aku hidup di negeri-negeri yang begitu asing dengan suara azan. Dan, satu-satunya tempat aku mendapat pengetahuan agama dengan intensif adalah di rumahku sendiri.

Ketika kembali ke Indonesia, dan tidak lama kemudian aku menikah dengan Mas Pras, kata nyadran untuk pertama kalinya kudengar pada bulan ketiga perkawinan kami.

“Kita berziarah ke makam ayahku di Klaten sebelum Ramadhan. Kita juga akan pergi ke sana untuk nyadran. Untuk ruwahan. Mendoakan arwah para leluhur. Memohon berkah dari-Nya.”  Aku sudah pernah ke desa Mas Pras sebelumnya. Tetapi, belum pernah mendengar hal-hal seperti nyadran dan ruwahan sebelumnya.

Sebenarnya baru delapan tahun terakhir, semenjak aku menetap di Jakarta, aku juga baru mengetahui tradisi mengirimkan doa untuk orangtua dan sanak saudara yang sudah meninggal. Aku baru mendengar sendiri seorang kyai berdoa memohon ampun untuk mereka, dengan menyebutkan nama orang-orang yang sudah meninggal dunia itu, lengkap dengan bin atau bintinya. Di pertemuan-pertemuan keagamaan di kedutaan, acara yang biasa kuikuti hanyalah ceramah, silahturahmi dan mengumpulkan uang sumbangan. Lain, rasanya tidak pernah. Belum pernah ada orang meninggal dunia di kedutaan ketika ayahku bekerja.

Sementara itu, di dalam penerbangan perdanaku menuju hari nyadran, aku masih berusaha membayangkan seperti apa upacara nyadran itu. Tetapi, tak ada sesuatu pun yang melintas di benakku tentang hal itu, kecuali khayalanku sendiri. Melompat-lompat di antara gumpalan awan di luar jendela. Lalu, tiba-tiba saja pesawat sudah mendarat dengan selamat di Adi Sumarmo. Di lobi bandara, aku dan suamiku telah menanti jemputan. Sambil menunggu, aku diperkenalkan pada pilot yang baru saja menerbangkan kami dengan selamat sampai ke Solo.

“Sutrisno,” kata kapten berumur separuh baya itu padaku, sesaat setelah kuucapkan namaku. Rupanya dia juga ingin pergi nyadran. Desa asalnya persis di sebelah desa Mas Pras.

Sebuah kijang kapsul, dan seorang sopir, membawa kami bertiga ke tepi Prambanan. Saat itu Prambanan masih tegak menjulang di antara rumah-rumah modern di sepanjang jalan menuju Klaten. Entah sekarang. Kudengar, peristiwa gempa bumi beberapa bulan yang lalu telah memporakporandakan sebagian susunan asli batu-batu yang dianggap suci dan bersejarah itu.

Di desa mertuaku. Malam, setelah shalat Isya’ berjamaah, ibu mertuaku dan adik-adik perempuannya telah mempersiapkan segala penganan dan minuman untuk orang-orang yang akan datang mengaji di rumah mereka. Upacara tahlil seperti yang pernah kubayangkan, berlangsung pada malam itu dengan khidmat. Bapak-bapak berada di ruang paling depan, mengenakan baju koko, sarung kotak-kotak dan peci hitam atau putih. Ibu-ibu duduk di bagian belakang rumah, dekat dengan dapur dan ruang makan. Mereka mengenakan baju-baju panjang dan kerudung berwarna-warni.

Tetapi, Mas Pras mengatakan, upacara nyadran baru akan berlangsung besok pagi. Dua orang laki-laki muda datang sesudah acara pengajian itu, membawa sebuah kotak kayu. Panjangnya lebih kurang satu meter, dan lebarnya kira-kira kurang dari setengah meter. Kotak itu seperti peti tanpa tutup. Seperti tempat tidur bayi. Dengan sebatang kayu atau bambu untuk mengangkatnya. Mas Pras bilang itu namanya jodang.

Pagi-pagi buta, masih jauh dari subuh, aku telah terbangun oleh suara langkah kaki ibu mertuaku. Ia berjalan mengendap-endap masuk ke dalam kamar tempat aku menumpang tidur, mengambil sehelai kain dari dalam almari pakaian. Sehelai kain kuning yang panjang dan lebarnya sesuai untuk menutupi kotak kayu itu. Sekilas aku mengira, warna kain itu ada maksudnya. Tapi, ternyata tidak. Begitulah yang kutemukan ketika matahari benar-benar terbit di langit Klaten. Aku diminta membantu memasukkan makanan-makanan ke dalam kotak kayu itu, menyusun makanan-makanan yang telah semalaman dimasak itu. Tumpeng. Jajanan pasar. Dan, entah apa lagi. Makanan asli kampung. Seumur hidupku baru kali itu aku melihat warna-warni makanan itu.

Kemudian, salah seorang paman suamiku, dengan hardtop hitam metaliknya mengantarkan kami – suamiku, ibu mertuaku, aku, istri dan  dua anaknya – ke sebuah tanah pemakaman. Luas, angker dan bau kemenyan. Dari kejauhan saja sudah seperti tempat peninggalan bersejarah orang-orang Majapahit. Kijing-kijing batu yang hitam. Asap dupa yang melenggang lenggok di udara pagi yang sejuk. Sekejap aku merasa berada pada zaman antah berantah dalam buku-buku sejarah yang pernah kubaca.

Lalu, tibalah saatnya upacara nyadran yang kunanti-nanti itu. Sesudah menunjukkan makam ayahnya, sesudah mendoakan seluruh keluarga yang dimakamkan di sana, Mas Pras menggandeng tanganku, menyuruhku duduk di dekat kotak kayu yang baru saja sampai. Kotak kayu berbalut kain kuning yang dibawa dua orang pemuda dari rumah ibu mertuaku. Kudengar mereka berjalan kaki saja untuk membawa kotak itu.

Di bawah sebuah tenda besar, di jalanan depan pemakaman, jodang-jodang berjejer, dikelilingi keluarga yang membawakannya. Mereka duduk di atas tikar-tikar yang sudah dihamparkan. Kain-kain berwarna-warni di sana sini. Ternyata warna kain yang menutupi jodang-jodang itu tidak sama. Entah isinya. Sementara itu, aku duduk dengan kaki bersimpuh dan diserang kesemutan. Seseorang berbicara pada corong pembesar suara dalam bahasa yang tidak asing untukku, tetapi tidak kupahami. Orang-orang di sekitarku berbicara satu sama lain, setengah berbisik dan setengah tidak, dalam bahasa yang juga tak asing bagiku, tetapi tidak kumengerti.

Entah bagaimana, upacara itu ternyata sudah berlangsung, ketika orang di corong pembesar suara itu berbicara, dan orang-orang mengangkat tangan untuk berdoa. Aku benar-benar tidak mengerti dan sampai sekarang merasa upacara itu begitu cepat berlalu. Pengalaman pertama itu alangkah begitu singkatnya, sampai-sampai aku masih bingung, bagian dari manakah yang dianggap sebagai puncak perayaan nyadran. Mungkin, karena pada saat itu, kadang-kadang pikiranku tidak benar-benar berada di sana. Apalagi mendengar orang-orang bicara dalam bahasa yang tak kupahami.

Aku teringat Hari Cheng Beng yang pernah kulewati di Hong Kong. Kuburan-kuburan dengan batu-batu nisan besar dan huruf-huruf Han Zhi. Wangi hio dan asapnya yang sama persis dengan asap dupa yang melenggak-lenggok di atas pemakaman leluhur Mas Pras saat itu. Orang-orang pergi menghormati leluhur mereka, membersihkan pemakaman sanak saudara mereka, dan memohon restu dari nenek moyang mereka untuk segala sesuatu yang mereka kerjakan.

Tidak lama kemudian, orang-orang di Hong Kong bersiap-siap memasuki Bulan Hantu Lapar. Panggung-panggung didirikan untuk pementasan opera Cina. Pernak-pernik untuk dibakar. Hio-hio merah dan besar. Semuanya konon untuk para arwah yang akan gentayangan pada Bulan Hantu Lapar. Dewa yang menjaga Alam Kubur konon membebaskan roh-roh manusia untuk berkeliaran di Alam Dunia pada bulan itu. Dan, bulan itu adalah saatnya orang-orang yang masih hidup untuk menyenangkan arwah leluhur mereka, juga arwah orang-orang yang mereka cintai. Toa Pe Kong di kelenteng-kelenteng ditutup matanya.

Tidak lama setelah pikiranku berada di Hong Kong, tahu-tahu semua orang sudah membuka kain yang menutupi jodang-jodang di situ. Isinya ternyata tidak sama. Ada yang membawa dodol dengan pembungkus merah dan kuning. Ada yang membawa kue-kue lapis. Juga ada yang membawa mi goreng Jawa Tapi, setahuku, tidak ada yang membawa pizza atau burger. Pokoknya, semua makanan lokal.  Tibalah saatnya makan. Dan, setelah makan-makan selesai, kami semua pulang. Ya ampun. Jadi, cuma itu saja?

Kataku, “Apakah mungkin dulu isi jodang itu untuk leluhur di alam kubur? Mungkin dulu mereka percaya bahwa setiap tahun sekali  arwah-arwah para leluhur keluar dari alam kubur dan kelaparan. Mungkin mereka percaya jika arwah-arwah itu tidak mendapat makanan, mereka akan mengambil seorang dari yang masih hidup di dunia untuk menemani mereka.”

 Aku pernah menceritakan tentang Hari Cheng Beng kepada Mas Pras. Tetapi, karena Mas Pras dibesarkan di Jakarta, dan hanya mengenal tradisi nyadran dari ibunya yang setiap tahun sekali pulang khusus untuk nyadran, jadi dia mengangkat bahu.

“Aku rasa bukan begitu. Tapi, aku tidak terlalu mengerti. Tapi, Sya’ban memang bulan para arwah. Mungkin Sunan Kalijogo memanfaatkannya untuk mengubah tradisi nyadran orang-orang di sini yang waktu itu baru masuk Islam. Almarhum ayahku juga wafat pada bulan Sya’ban sepuluh tahun silam,” jawabnya.

Bahwa Sya’ban adalah bulan para arwah, juga baru kudengar enam tahun yang lalu, setelah aku menikah dengan Mas Pras, dan tinggal berdua di sebuah rumah kontrakan.

Aku teringat dua peristiwa sehari dan dua hari sebelum keberangkatan pertamaku menghadiri nyadran. Sehari menjelang keberangkatanku, aku menghadiri pemakaman seorang guru besar yang menjadi dosenku. Padahal baru beberapa hari sebelumnya aku menjabat tangannya, mengucapkan terimakasih karena telah bersedia membimbing skripsiku sampai aku lulus. Sehari sebelum kematian dosenku itu, salah seorang tetanggaku juga meninggal dunia. Setiap pagi kakek itu selalu berjalan dengan tongkatnya melintasi depan rumahku. Kami selalu saling menyapa, meski belum mengenal nama satu sama lain. Sehari sebelum kematiannya, aku juga masih sempat membalas sapaannya.

Kata-kata Mas Pras tentang bulan Sya’ban membawaku kembali ke Washington. Aku tiba-tiba berada di bulan Oktober, di depan pintu rumah seorang tetangga berambut pirang. Umurku delapan tahun. Bersama beberapa orang teman, berkulit kuning, hitam dan putih, mengetuk-ngetuk pintu rumahnya. Kami mengenakan kostum-kostum aneh. Topi penyihir Merlin di atas kepala Zack hampir selalu jatuh. Taring drakula palsu pada gigiku selalu copot. Ai Ling menggaruk-garuk lehernya yang dicat semerah darah. Dan,  Bob yang berlindung di balik topeng seorang pembunuh terkenal dalam sebuah film.

Hari.Haloween. Yang kutahu pada waktu masih kanak-kanak hanyalah sebuah hari untuk mengenakan pakaian mengerikan. Lalu, berkeliling dari pintu ke pintu untuk mendapatkan permen gratis. Setelah agak dewasa, aku baru mengetahui banyak mitos dan cerita di balik asal muasal perayaan itu. Sama seperti Bulan Hantu Lapar.

 Tetapi, yang paling kusuka dari sekian banyak mitos tentang asal muasal perayaan Bulan Hantu Lapar adalah tentang cinta tak kesampaian sepasang anak manusia. Cinta terlarang seperti Romeo dan Juliet. Pada suatu ketika mereka berjanji bertemu di sebatang jembatan, di atas sungai. Salah satu dari mereka datang lebih dulu, dan menunggu terlalu lama. Lalu, ia memutuskan terjun ke sungai karena mendengar khabar burung yang buruk tentang kekasihnya. Ketika kekasihnya akhirnya datang, sang kekasih hanya menemukan sekuntum teratai di atas sungai, reinkarnasi kekasihnya. Lalu, ia juga terjun ke sungai. Kemudian, ia juga menjelma menjadi teratai.

Tetapi, sayang, Mas Pras tidak tahu mitos-mitos di balik nyadran yang seperti itu.

“Menurutku, pada bulan Sya’ban banyak orang yang meninggal, itu hanya kebetulan saja. Setiap jam, setiap hari, selalu ada orang yang meninggal,” kataku pada Mas Pras setelah tadi ia mengatakan tentang asal-muasal nyadran dan bulan Sya’ban.

“Kau tidak salah. Tetapi, mungkin aku juga tidak salah. Barangkali kematian lebih banyak orang pada bulan Sya’ban adalah cara Tuhan untuk mengingatkan pada kita. Bukankah kyai-kyai sering berceramah, manfaatkanlah bulan Ramadhan tahun ini sebaik-baiknya, sebab belum tentu kita bisa kembali ke bulan Ramadhan tahun yang akan datang. Setelah kita melalui sepuluh bulan dan Ramadhan tiba-tiba di depan mata, tiba-tiba kita dengar di mana-mana, begitu banyak kematian, terutama orang-orang yang dekat dengan kita, atau yang tidak kita sangka-sangka.”

Aku mengangguk-angguk saja mendengar penjelasan Mas Pras. Apa yang dikatakan Mas Pras cukup masuk akal bagiku. Namun, ketika itu, aku masih tetap tak yakin bahwa bulan Sya’ban benar-benar bulan para arwah.

Tak ada acara yang penting lagi setelah kami semua kembali ke rumah dari nyadran. Kecuali, berkunjung ke rumah sanak saudara. Pengalaman pertamaku itu terasa cukup biasa bagiku. Harapanku untuk melihat sesuatu yang lebih dahsyat dari sekadar memakan apa yang ada di dalam jodang ternyata hanyalah harapan kosong. Mungkin karena aku tidak bisa bahasa Jawa, jadinya aku tidak khusyuk mengikuti jalannya upacara. Tetapi, aku rasa, aku selalu mendapat pengalaman istimewa dengan tradisi-tradisi unik di negara orang. Seperti di Hongkong. Aku tidak bisa bahasa Kantonis maupun Mandarin.

Begitulah pengalaman pertama pada enam tahun lalu itu terasa berlalu begitu cepat. Untuk sesaat, aku merasa tidak akan mengingat pengalaman itu dengan berlebihan. Aku dan Mas Pras terbang kembali ke Jakarta. Aku melompat-lompat lagi di antara gumpalan awan di luar jendela. Hongkong. Washington. Tak terasa jauh lagi.

Dalam perjalanan kembali ke rumah. Ketika mobil yang kami tumpangi memasuki tol Cawang, dan pintu tol Tanjung Priok belum begitu jauh, suamiku menerima sebuah berita dari telepon genggamnya.. Tiba-tiba saja, aku menarik kembali kata-kataku bahwa nyadran pertamaku sama sekali tidak semenarik yang kubayangkan.

“Ada apa?” tanyaku pada Mas Pras, karena dia tiba-tiba menyuruh supir keluar dari jalan tol, belok kembali ke arah bandara.

“Kapten Sutrisno meninggal dunia.” Hanya itu jawaban Mas Pras. Bukankah dia pilot yang tadi menerbangkan kami kembali ke Jakarta? Bukankah dia pilot yang kemarin juga nyadran? Aku melontarkan banyak pertanyaan pada Mas Pras, tetapi dia tidak bisa menjawab saat itu.

Sebagai manajer personalia dan humas, Mas Praslah yang memegang surat keterangan kematian Kapten Sutrisno. Aku berkesempatan membaca surat keterangan kematian itu dengan seribu satu pertanyaan. Tapi, aku mendapatkan hanya satu jawaban. Di sana, hanya dikatakan, sebab kematian adalah sudden death, dalam kurung henti jantung. Dan, satu jawaban itu adalah Sya’ban. @ 2007


*Belum Pernah Terbit.
*Tidak jadi dimuat di suatu koran, walau dijanjikan akan dimuat. ^_^